“Selama wabah covid-19 pemeriksaan kesehatan dan imunisasi bagi ibu hamil dan balita di puskesmas dengan membuat perjanjian terlebih dahulu dengan tenaga medis dan dilakukan sesuai jadwal, jangan sampai tertunda dan jangan lupa hindari kerumunan, jaga jarak, sering cuci tangan dan pulang kerumah langsung mandi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Bidang III PP IDAI Hartono Gunardi mengatakan bila sekolah dibuka, akan beresiko bagi anak dan keluarga dirumah terkena covid-19.
“Kalau anak-anak pulang kerumah membawa virus tersebut maka keluarganya dirumah bisa sakit terutama yang mempunyai resiko tinggi seperti keluarga usia lanjut,” ujar Hartono.
Ketua Persakmi Ridwan Amiruddin juga beranggapan untuk menunda dibukanya sekolah seperti biasanya.
“Sebaiknya tidak untuk membuka sekolah dahulu karena akan memicu terjadinya ledakan dari pandemi ini, ini sangat mengkhawatirkan,” ujar Ridwan.
Psikolog Anak Seto Mulyadi menyebutkan untuk disepakati bersama agar aktivitas belajar anak untuk masih dilakukan dirumah saja.
“Kita konsultasi dengan para dokter, gugus tugas covid-19 dan lainnya, untuk anak-anak dirumah dahulu, mari kita sepakati bersama,” ujar Kak Seto.
Menurutnya, saat berada dirumah pun anak banyak mendapatkan hal yang positif, namun kuncinya tetap kepada orang tua.
“Kepada ayah dan ibu yang benar-benar menciptakan suasana yang layak dan ramah anak dan anak diberdayakan seperti pintar masak dan lainnya. Kampanyekan kreativitas dan inovasi,” katanya.
Kak Seto menambahkan, orang tua juga harus menciptakan suasana gembira bagi proses belajar anak dirumah.
“Gembira itu yakni gerak, emosi cerdas, makan dan minum teratur plus sehat, beribadah dan berdoa, istirahat, ramah dan rukun dalam keluarga serta aktif berkarya,” tandasnya.(*)





