Menolak Rancangan Kurikulum Baru

  • Bagikan

Oleh: Reki Fahlevi
(Aktivis Lembaga Kajian Pendidikan)

Sejak kemarin (19/9) di group whatsapp sejarah Universitas Lampung (Unila) yang saya tergabung di dalamnya, dihebohkan rancangan kurikulum baru yang tidak mewajibkan mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran wajib.

Bahkan, beberapa media online menulis penghapusan mata pelajaran sejarah pada rancangan kurikulum baru.

Hal itu tentu menjadi polemik, beberapa organisasi menolak penghapusan tersebut, seperti MSI (Masyarakat Sejarawan Indonesia), Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta, Ikatan Alumni Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, dan masih banyak lagi.

Saya pun demikian, menolak rancangan kurikulum baru yang diduga akan menghapus mata pelajaran sejarah, ataupun membuat mata pelajaran sejarah menjadi mata pelajaran yang tidak wajib di sekolah-sekolah, sesuai dengan draf sosialisasi penyederhanaan kurikulum dan asessmen nasional yang beredar.

Sebab menurut pengamatan saya, ada beberapa anak bangsa yang tidak memahami pentingnya sejarah sebagai suatu bangsa, mereka sedang mengusulkan agar pelajaran sejarah menjadi mata pelajaran pilihan, tidak lagi menjadi pelajaran wajib, dan kalaupun usulan itu lolos maka generasi muda dalam satu dekade saja akan kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Sejarah teramat penting bagi bangsa dan negara ini, sama dengan ruh dan nafas bagi suatu bangsa.

BACA JUGA:  29 Tahun Lampung Barat, Dimana Sosok Ali Rukman?
  • Bagikan