Dan yang namanya mengubah kebiasaan apalagi yang sudah tertanam sejak kecil pasti membutuhkan waktu yang panjang. Sedangkan situasi sekarang ini membutuhkan solusi yang bisa berhasil dalam jangka pendek karena ancaman krisis pangan memang sudah di depan mata.
Jika kita hanya mengacu pada jangka waktu maka saya rasa gagasan pemerintah tampak menggoda (walaupun saya tetap berharap ada opsi lainnya yang lebih baik).
Yang menjadi kekhawatiran terbesar saya adalah program ini hanya akan memindahkan krisis pada sektor pangan menjadi krisis pada sektor lingkungan. Gagasan ini pun semakin saya ragu karena yang diminta untuk mengomandoi program ini adalah Prabowo Subianto yang merupakan Menteri Pertahanan, bukan otoritas semestinya yaitu Kementerian Pertanian. Saya hanya bisa menerka-nerka kenapa yang diminta justru bukan pejabat yang berada di bidangnya.
Sampai akhirnya saya mengingat iklan pencapresan Prabowo Subianto pada 2014 yang menjanjikan swasembada pangan (ditunjukkan dengan burung garuda besar terbang di atas sawah diikuti harimau meraung), mungkin Presiden menganggap bahwa Pak Prabowo masih menyimpan visi dan rencana besar untuk mewujudkan swasembada itu.
Apabila memang benar itu alasannya tentu sangat absurd saya rasa. Ini seperti kita akan menjalani operasi bedah jantung yang dilakukan oleh insinyur roket luar angkasa, secerdas apapun insinyur itu kita tetap akan ragu karena itu bukan bidang keahliannya.
Hingga saat tulisan ini saya buat belum ada keputusan final terkait program apa yang dijalankan sebagai solusi menghadapi krisis pangan sedangkan grafik penambahan kasus harian semakin naik dan terus mencapai rekor-rekor baru.
Nampaknya kita masih harus berhadapan dengan potensi krisis pangan hingga nanti pandemi ini dinyatakan selesai yang sayangnya tidak ada yang tahu kapan hal itu akan terjadi.
Akhirulkalam saya ingin berpesan kepada rekan-rekan pembaca untuk selalu menjaga kesehatan dan mengikuti protokol kesehatan yang ada.
Karena semakin banyak penambahan kasus-kasus baru akan menyebabkan situasi pandemi berlangsung semakin lama. Dan semakin lama situasi ini berlangsung maka potensi terjadinya krisis pangan akan semakin dekat dengan kita terlebih lagi saat ini belum ada solusi konkrit yang dijalankan.
Oleh : Fajar Nasution (Mahasiswa Pertanian Universitas Lampung)





