Masih kata Tri, Kampung Kopi yang merupakan destinasi wisata yang berbasis kearifan lokal potensi ekowisata yang menonjolkan kopi sebagai brand yang dikelola.
Dimana, selain pengelolaan kopi sebagai minuman terdapat juga produk-produk unggulan lain yang berbahan baku dari kopi.
Contoh produk turunan yang dikelola dari bahan baku kopi antaranya, parfum kopi, handsanitzer kopi dan lain sebagainya. Tentunya, semua dikelola secara alami dan berbahan baku kopi.
“Jadi kita akan menonjolkan produk-produk turunan dari kopi itu sendri. Misalnya, kopi dibikin pangharum, kopi dibikin handsanitzer,” jelasnya.
Hal ini tentu dengan harapan bahwa kopi bukan hanya sebagai minuman saja. Akan tetapi, dapat dikelola menjadi berbagai macam produk yang memiliki nilai ekonomi.
Sehingga, pelancong yang datang ke Kampung Kopi dapat belajar mengenai kopi dari hulu ke hilir. Baik cara tanam sampai dengan pengelolaan kopi yang dikemas menjadi beberapa produk turunan ini.
Menurut satu-satunya kepala dinas perempuan di Pemkab Lambar ini, Menteri Sandiaga Uno berkunjung ke destinasi wisata Kampung Kopi saja.
Meski, sejatinya Lambar memiliki potensi wisata lain yang tidak kalah menarik.
“Sebenarnya ingin menunjukan potensi-potensi wisata lain kepada pak menteri. Agar menjadi semangat para pengelola pariwisata, tetapi karena jadwal beliau padat kunjungan hanya ke Kampung Kopi yang mana masuk 50 besar ajang ADWI,” tegasnya.
Sebelumnya, Desa Wisata Rigis Jaya dan empat desa wisata lainnya di Lampung masuk 300 besar, Kamis (19/8/21).
Sehari setelah itu, Jumat (20/8), Desa Wisata Rigisjaya dan satu lainnya di Lampung mampu menembus 100 besar ADWI.
Senin (23/8), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengumumkan Rigis Jaya masuk 50 besar ADWI.
(dri/WII)





