5 Syawal
Pekon Balak Kecamatan Batubrak,
Pekon Bakhu Kecamatan Batuketulis dan Pekon Negeriratu Kecamatan Batubrak
6 Syawal
Pekon Canggu Kecamatan Batubrak
Menurut Kabid Endang, ada kemungkinan akan ada tambahan dari pekon lain, yang saat ini sedang proses persiapan (rapat internal muli mekhanai–bujang gadis–pekon).
Pihaknya berharap mengharapkan gelaran sekura itu akan menjadi sajian atraksi dan gelaran yang dinanti semua orang.
Dikatakan, banyak masyarakat Lampung Barat dan juga orang luar kabupaten itu ingin menyaksikan langsung pergelaran pesta sekura itu.
“Untuk itu kami menghimbau agar kebudayaan ini kita sajikan sebagaimana semestinya. Artinya kembali ke pakemnya, tonjolkan keaslian identitas sekuranya itu sendiri. Akhir-akhir ini sekura melenceng dari sekura yang sebenarnya,” ujar Kabid Endang.
Menurutnya, jika menilik keaslian sekura yang diwariskan sejak dahulu, sekura hanya ada dua jenis: Sekura Betik (Helau) dan Sekura Kamak.
“Sekura betik penampilannya helau (indah) lucu, bersih dan sifatnya sebagai penghibur, dengan menggunakan kaca mata gelap dan semua kostum dari kain panjang dan biasanya penutup kepala menggunakan selindang miwang (kain khas sebutan masyarakat Lampung Barat), kemudian pinggangnya juga dipenuhi gantungan kain panjang, banyak atau sedikitnya kain panjang yang dipakai oleh seorang atau kelompok orang yang sedang bersekura menunjukkan banyak atau sedikitnya muli yang jadi pengikutnya (dalam kebotnya/kelompoknya) karena kain panjang yang dipakai oleh sekura tersebut dahulunya adalah hasil pinjaman dari muli-muli yang ada dalam jukku/kebot adatnya.
Sekura betik lebih mengarah pada menghibur penonton dengan tingkah mereka yang bebas berekspresi, sekura betik tidak berhak mengikuti panjat pinang, hanya sebagai penggembira,” terangnya.
Seementara, Sekura kamak atrinya sekura ynag berpenampilan lusuh.
“Sekura kamak memiliki penampilan kotor, bisa disebut sebagai juga sebagai sekura calak (Pandai). Kamak (kotor) adalah ciri sekura ini, yaitu memakai topeng dari bahan Kayu atau dari bahan-bahan alami (tumbuh-tumbuhan) dan atau terbuat dari bahan-bahan yang jelek/bekas yang membaluri tubuh mereka yang akan menjadikan penampilannya menjadi lebih unik dan kotor dengan pakaian aneh dan lucu. Sekura Kamak berhak memanjat pinang yang telah ditentukan, untuk bersaing dan bekerjasama dalam berkelompok untuk mencapai puncak dan menjadi pemenang,” jelasnya.
Sementara, lanjutnya, ada pertabyaan terkait busana sekura yang mengenakan helm. Bahkan ada yang mengenakan pakaian dalam.
“Ini kan merusak kebudayaan namanya. Jadi orang lain menilai sekura itu ajang kurang pantas. Sebuah gelaran menyajikan yang tidak pantas. Apa kita mau merusak tradisi kita? Saya yakin tidak! Maksudnya jangan kebablasan. Silahkan berpakaian perempuan dengan sekura kamak. Tetapi tetap dengan sopan santunnya, silahkan bebas berekspresi, tapi tetap jaga bahwa kita manusia yang beradat dan beradab, mari kita jaga kebudayaan ini bersama, jangan kita coreng muika kita sendiri,” imbau Kabid Endang.
Selain itu, ia juga meminta seluruh muli mekhanai (Bujang gadis) pekon sebagai penyelenggara sekura untuk mengurus izin keramaian terlebih dahulu kepada tim gugus tugas penanganan covid 19, melalui peratin, camat, TNI/Polri yang berada di wilayah masing-masing.
“Dan agar seluruh masyarakat yang akan ikut dalam perhelatan ini untuk melalukan vaksinasi sampai dengan yang ke-3 (booster). Semoga gelaran ini akan mengobati rindu kita yang sudah dua tahun tidak dilaksanakan, dan akan menjadi kebanggaan kita semua,” pungkasnya. (WII)





