“Berawal dari kebiasaan itulah, sehingga lama kelamaan kegiatan menapis itu dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memperoleh pundi-pundi uang guna menambah dari segi perekonomian keluarga,” kata dia.
Dirinya mengatakan, dirinya bisa membuat kain tapis dengan berbagai motif, seperti Besakhung, Tapis Cantik, Tapis Abung, Tapis Ujung Krui, dan Tapis Ujung Syarat. Dari sebanyak motif itu berbeda-beda kisaran harganya tergantung tingkat kerumitan dari motifnya.
“Kalau harga kain tapis sepaket sarung dan selendang tapis mulai dari harga Rp400 ribu sampai dengan Rp3 juta, untuk yang paling mahal itu tapis dengan motif Ujung Syarat ini bisa mencapai harga jual Rp3 juta, dan waktu pengerjaannya itu bisa sampai dua bulanan lebih karena motif ini benang menutup semua permukaan kainnya, maka dari itu harga lumayan mahal dan pengerjaannya lama,” katanya.
Menurutnya, pandemi Covid-19 yang melanda dua tahun terakhir, sangat berpengaruh besar terhadap penjualan dan harga jual kain tapis di pasaran, sehingga hal itu membuat banyak warga berhenti membuat tapis.
“Biasanya kita itu mengirim kain tapis ke toko-toko yang berada di Bandar Lampung, namun dua tahun terakhir ini kita tidak bisa mengirim ke toko karena mereka beralasan barang masih ada di toko, namun kalau saat ini alhamdulillah pesanan sudah mulai banyak lagi, sehingga masyarakat sekitar juga mendapatkan rezeki dari banyaknya pesanan kain tapis,” pungkasnya.
(WII)





