Dirinya menjelaskan, dari jumlah kasus DBD yang terjadi, rata-rata ditangani ataupun dilakukan perawatan di Fasilitas Kesehatan (Faskes) yang ada di Kecamatan, meskipun ada juga pasien DBD yang dilakukan perawatan di RSUD.
“Kalau untuk korban jiwa tidak ada dan mudah-mudahan tidak ada, kalau terjadi lonjakan kasus DBD pada bulan Maret ini disebabkan beberapa faktor, seperti cuaca yang saat ini memasuki musim penghujan dan juga kebersihan lingkungan di masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, faktor lingkungan yang kotor ditambah dengan musim penghujan, sehingga banyak barang bekas atau sampah yang menampung air hujan, sehingga dapat dijadikan tempat berkembang biak nyamuk, ditambah faktor perilaku yaitu kesadaran masyarakat untuk PSN masih rendah.
“Makanya, setiap ada kasus DBD di beberapa kecamatan, kita langsung penyelidikan Epidemioligi kepada keluarga dan lingkungan pasien, kemudian memberikan edukasi Pemberantasan Sarang Nyamuk ( PSN) 3M PLUS dan Fogging kepada lingkungan pasien yang positif kasus DBD,” pungkasnya.
(WII)





