BPBD Lambar Dorong Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal, Siaga Bekal

  • Bagikan

“Selanjutnya perlu dilakukan Penguatan Kelembagaan dan Jejaring seperti membentuk dan aktifkan Forum PRB (FPRB), relawan desa tangguh, dan kelompok masyarakat peduli bencana, membangun sinergi antara pemerintah daerah, BPBD, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat (Pentahelix) dan mendorong  kolaborasi lintas sektor agar peran dan sumber daya saling melengkapi,” katanya lagi.

Padang juga mengatakan, tidak kalah penting adalah Pengembangan Sistem Informasi dan Edukasi seperti pengembangan sistem komunikasi peringatan dini berbasis komunitas, termasuk penggunaan tanda alam tradisional, pelaksanaan sosialisasi, pelatihan, dan simulasi rutin di masyarakat dan Integrasikan pendidikan kebencanaan dalam sekolah dan kegiatan adat.

Untuk memberikan penguatan sekaligus menjamin keberlangsungan program maka perlu dilakukan Integrasi Kearifan Lokal dalam kebijakan dan perencanaan seperti memasukkan nilai-nilai lokal dalam dokumen RPB, RPJMD, dan RTRW, menjadikan  kearifan lokal sebagai modal sosial dalam kebijakan penanggulangan bencana, penyusunan produk hukum daerah sebagai acuan dan dasar pelaksanaan program.

Tidak kalah penting Penguatan Kapasitas dan Teknologi Tepat Guna melalui pengembangan teknologi lokal sederhana. Misalnya, sistem drainase tradisional, bangunan ramah bencana, kentongan, fasilitasi pelatihan untuk meningkatkan kapasitas adaptasi masyarakat dan kombinasikan kearifan lokal dengan inovasi modern secara harmonis, budaya nyambai.

Sebagai langkah akhir, lanjut Padang, perlu dilakukan monitoring, evaluasi, dan replikasi dengan melakukan evaluasi rutin terhadap efektivitas kegiatan mitigasi, mendokumentasikan praktik baik atau best practices dan replikasi ke wilayah lain. Serta menggunakan hasil evaluasi untuk memperkuat kebijakan dan perencanaan berikutnya.

Hasil yang diharapkan dari SIAGA BEKAL dan merupakan tujuan dari pelaksanaan proyek perubahan ini adalah meningkatnya pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan mitigasi bencana, serta terbangunnya sinergi antara unsur pemerintah, adat, dan komunitas lokal.

BACA JUGA:  Kasus Hepatitis Akut di Lampung Barat Nihil, Kenali Gejala jika Terinfeksi

“Nilai-nilai kearifan lokal seperti pelestarian lamban langgarh, optimalisasi peran Balai sebagai lumbung pangan cadangan bencana, tradisi bebathokh dan semangat gotong royong dalam memperkuat ketangguhan sosial dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana, budaya nyambai sebagai media sosialisasi dan edukasi masyarakat dengan pantun dan syair dengan riang gembira sehingga informasi bencana bukan lagi informasi yang membuat masyarakat selalu was-was dan menjadi informasi yang menakutkan,” jelasnya.

Selain itu penggunaan Early Warning Sistem tradisional yang murah dan sederhana seperti kukuhan/kentongan akan menjadi simbol dan jati diri masyarakat terkait dengan sikap peduli lingkungan dengan ancaman, bahaya dan resiko tinggi bencana sekaligus peningkatan kesadaran waspada dini.

“Keberlanjutan SIAGA BEKAL ini diarahkan melalui integrasi program ke dalam kebijakan daerah serta pengembangan jejaring kemitraan antar lembaga untuk memperkuat mitigasi bencana berbasis kearifan lokal secara berkesinambungan,” pungkasnya. (lem/wii)

  • Bagikan