“Proses penjemuran juga diberi alas sehingga tidak menyentuh tanah. Setelah kopi kering, digiling. Kemudian bijinya dilakukan penyoltiran. Dipisahkan lagi biji yang bagus dengan yg pecah-pecah,” ujar Sekna.
Sementara menurut pembudidaya kopi petik merah, Suhardin, meskipun pengolahan kopi terbilang cukup lama dan sedikit rumit, tetapi harga kopi petik merah cukup tinggi dibanding kopi yang dipetik hijau.
“Dengan kisaran harga Rp25 ribu per Kg. Sementara kopi petik hijau atau kuning Rp18 ribu,” ungkap Suhardin.
Dikatakan, kini sudah banyak pembudidaya kopi petil merah, bukan hanya masyarakat Kampung Bandaragung, tetapi kampung lain di Banjit sudah mulai membudidayakan petik merah.
“Kedepannya kawasan Banjit bisa menjadi central penghasil kopi yang berkualitas dan dikenal dunia luar,” tutupnya.
(roy/WII)





