Sedangkan untuk komoditas kopi tidak demikian harganya sangat tergantung dengan dunia ekspor dan tidak menggunakan pola HPP.
Terkait dengan program dalam menstabilkan harga, pihaknya menyampaikan selalu memberikan pembinaan secara intens berkomunikasi dan mengedukasi melalui kelompok-kelompok tani.
Prihal program kedepan Disbunak Lampung Barat akan mengintegrasikan dengan peternakan, seperti menggunakan pupuk organik yang berasal dari feses hewan ternak.
“Mengingat Dinas kita yaitu Perkebunan dan Peternakan, dan model ini beberapa petani sudah menggunakan dan terbilang mampu meningkatkan hasil produksi,” tegasnya.
Masih kata Sumarlin, faktor lain yakni kebanyakan para petani kopi terjerat dengan manajemen keuangan dengan sistem pemimjaman uang pra musim panen. Sehingga mengharuskan mereka untuk tetap menjual dengan harga yang telah ditetapkan oleh distributor kopi, atau dengan harga yang rendah.
Laporan : Erwan Nur / WII





