Menyambangi Rumah Orang Tua Daryati di Lampung, TKI yang Divonis Hukuman Seumur Hidup di Singapura

  • Bagikan

GEDONGTATAAN, WAKTUINDONESIA – Pengadilan Singapura telah menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup terhadap Daryati (27) Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kabupaten Pesawaran, Lampung.

Pekerja Migran Indonesia (PMI) dihukum hidup atas tuduhan membunuh majikan perempuan  Seow Kim Choo (59) 2016 silam dengan 98 luka tusuk pada 7 Juni 2016.

Wartawan Waktuindonesia.id Apriyansyah menyambangi kediaman orang tua Daryati di Desa Padang Ratu Kecamatan Gedongtataan, Senin (26/4/2021).

Rumah orang tua Daryati berjarak sekitar 5Km dari Tugu Pengantin Gedong Tataan ke arah jalan raya Kedondong.

Sesampainya di Desa Padang Ratu lalu belok kiri ke arah Dusun Pagar Banyu. Dari persimpanhan itu rumah orang tua Daryati sekitar 1Km.

Keluarga Daryati tinggal di Desa yang cukup padat pemukiman penduduk. Kondisi rumah Daryati masih tergolong sederhana. Tak tampak peralatan rumah tangga mewah. Teras depan rumahnya belum dikeramik. Lantai semen tampak telah terkelupas ada retakan kecil di lantai itu.

Saat wartawan Waktuindonesia.id menjumpai Munarti (59) ibu dari Daryati. Saat Waktuindonesia.id memberikan salam, Munarti keluar.

Ia mengaku sedang berada di dapur sedang membersihkan ayam untuk persiapan berbuka puasa.

Di hadapan Waktuindonesia.id,  Munarti, tampak berupaya menyembunyikan kesedihannya.

Meski demikian matanya tampak berkaca-kaca, ia bahkan hampir tak kuasa menahan tangisnya.

Maklum, Daryati merupakan tulang punggung keluarga. Namun kini harus menerima kenyataan pahit harus menjalani hukuman seumur hidup.

Meski begitu, ia sedikit lega, buah hatinya lepas dari ancaman hukuman mati.

Ia sempat mengutarakan kerinduannya dengan Daryati. Ia dan keluarga berharap pemerintah bersedia mambantu keluarga untuk diberangkatkan ke Singapura menjenguk sang anak.

“Saya dan keluarga sangat mengharapkan bantuan dari Pemkab Pesawaran dan Pemprov Lampung serta KBRI Singapura untuk membantu keberangkatan kami ke Singapura untuk bertemu Daryati,” ujar Munarti dengan suara lirih.

BACA JUGA:  Sepasang Sejoli di Balikbukit Diciduk Polisi di Indekos, Ini Gegaranya

Selain itu, Munarti berharap Pemkab setempat juga membantu perekonomian keluarganya. Maklum, satu-satunya yang menjadi tulang punggung keluarga kini menjalani  putusan pengadilan Singapura.

“Saya berharap Pemkab bisa membantu keluarga kami yang di sini. Karena Daryati itu merupakan tulang punggung keluarga tapi sekarang dia divonis hukuman penjara seumur hidup jadi dia tidak bisa bekerja lagi,” katanya.

Kepada Waktuindonesia.id, Munarti menceritakan kepribadian Daryati sebelum berangkat menjadi TKW ke Singapura.

“Daryati itu anaknya sangat pendiam, kurang bergaul dan jarang keluar rumah tapi dia anaknya sangat sopan. Sebelumnya dia sempat bekerja di salah satu tambak udang yang ada di Tulang Bawang selama satu tahun setengah. Kemudian ia memutuskan menjadi TKW di Singapura untuk mencari biaya pengobatan bapaknya yang sempat sakit parah,” kenangnya.

Menurutnya, Ia mengetahui informasi pembunuhan yang dilakukan Daryati terhadap majikan perempuannya setelah dua bulan keberangkatan anaknya.

“Dia berangkat ke Singapura itu sekitar bulan April 2016 lalu dan pada Juni 2016 kami mendapatkan kabar dari KBRI Singapura bahwa Daryati telah melakukan pembunuhan terhadap majikannya,” tuturnya.

“Kami sangat kaget mendengar kabar tersebut, bahkan suami saya yang saat ini sudah meninggal saat mendengar kabar itu semakin parah sakitnya,” timpalnya.

Ia berharap ada keringanan hukuman bagi Daryati.

“Semoga saja ada keringanan hukuman untuk anak saya, ya semoga saja hukumannya tidak sampai seumur hidup,” pungkasnya.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabupaten Pesawaran Lampung sudah mengupayakan keringanan hukuman terhadap Daryati (27) Pekerja Migrasi Indonesia (PMI) asal Desa Padang Ratu Kecamatan Gedongtataan, dengan berkoordinasi dengan Kementerian PPPA dan Dinas PPPA Provinsi Lampung

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas PPPA Pesawaran, Binarti Bintang, bahwa pihaknya sudah mengupayakan harapan keringanan hukuman yang di jalani oleh Daryati.

BACA JUGA:  Hari Ini Positif Covid-19 di Lambar Bertambah Lagi, Ini Jumah Rinci Sejak Awal Pandemi

“Kami di sini sebagai fasilitator karena kan kasus ini sudah masuk hukum diplomatik ya jadi ini kewenangan Kementerian PPPA berkoordinasi dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura,” ujarnya, Rabu (28/4/2021).

“Tentunya kami akan terus mengupayakan agar vonis hukumannya bisa diringankan,” tambahnya.

Sebelumnya, Daryati didakwa dengan ancaman tunggal berupa hukuman mati karena ditemukan bukti pembunuhan berencana pada 2016.

Pada 2020, ancaman hukuman Daryanti kemudian diubah hukuman mati dan hukuman hidup.

KBRI mendampingi proses hukum yang dijalani Daryati termasuk pemberian bantuan hukum oleh Pengacara sejak PMI itu pertama kali didakwa pada tahun 2016.

KBRI Singapura memberikan apresiasi kepada Pengacara Muzammil atas pembelaannya sehingga Daryati terbebas dari hukuman mati.

Setelah sidang terakhir pada Jumat (23/4/2021) Pengadilan Singapura menjatuhi hukuman seumur hidup.

“Kita sudah mengupayakan keringanan hukuman Daryati karena memang dia ini sebagai tulang punggung keluarga.

Selain itu ia juga pernah mengalami kekerasan di masa lalu yang mengakibatkan trauma mendalam dan memengaruhi kondisi kejiwaannya sehingga hukumannya diringankan,” katanya.

Menurutnya, untuk menangani kasus tersebut, Kementerian luar Negeri yang ada di KBRI sudah menunjuk pengacara untuk Daryati.

“Sudah ada pengacara yang ditunjuk untuk membantu menangani kasus tersebut,” tuturnya.

Lebih lanjut, Ia mengatakan sebelum masa tuntutan pihak keluarga sudah dibantu oleh Perusahaan Penempatan Pekerja Migrain (P3MI) dan sudah difasiltasi perwakilan KBRI menemui Daryat di Singapura.

“Ibu Daryati sudah dua kali diifasilitasi perwakilalan KBRI ke Singapura untuk bertemu Daryati, selain itu kami beserta Dinas PPPA Lampung dan Asisten Deputi Kementerian PPPA sempat mengunjungi keluarga untuk memberikan tali kasih,” jelasnya.

“Kalau minta untuk di berangkatkan lagi saat ini belum ada anggarannya karena kan anggaran kita terbatas apalagi saat ini masih dalam kondisi pandemi Covid-19 penerbangan ke luar negeri masih dilarang,” tutupnya.

BACA JUGA:  Wauw..! Sepasang Sejoli Asyik Bermesraan Lupa Prokes di Sekitar Kantor DPRD

Binarti juga menceritakan kronologi pembunuhan yang dilakukan Daryati terhadap majikannya.

“Jadi, setelah dua bulan bekerja, Daryati ingin mengambil paspornya yang ditahan di brankas milik majikannya karena saat itu Ia ingin kembali ke Indonesia, Ia mendekati majikannya dan mengarahkan pisau dan menariknya menuju brankas tersebut,” jelasnyas.

“Lalu majikannya berontak dan berteriak, Daryati langsung menyeretnya ke toilet dan di situlah dia melukai majikannya dengan 98 luka tusuk. Majikannya akhirnya meninggal dunia,” tutupnya.

(apr/WII)

  • Bagikan