Cara mereka mengoperasikan getek tersebut yang melintasi sungai selebar kurang 40 meter itu dengan ujung rakit ditambatkan atau diikat dengan tali sling (kawat baja) yang melintang di atas sungai.
“Kalau air lagi banjir tetap kita operasikan. Yang aku takutkan itu ada sampah dan kayu besar. Tapi malah kalau hujan malah ga banjir, banjirnya pas musim kering kalau tidak waktu air kiriman dari atas (Hulu),” bebernya.
Ia juga mengungkapkan suka dukanya sebagai pengojek getek. Bahkan karena kecerobohan penumpang, getek miliknya pernah tenggelam.
“Tahun 2020 kemarin, karena ada penumpang yang ngga sabaran mau nyebrang, malah melebihi kapasitas. Ada tujuh motor waktu itu, padahal saya posisinya sudah kelelahan. Akhirnya tujuh motor itu tercebur semua ke dalam air sampai rusak,” keluhnya.
Sementara itu, Yulian, seorang pengguna getek mengungkapkan suka naik getek penyebrangan karena lebih efisien.
“Ya saya setiap hari pasti naik getek ini, karena lebih mudah, cepat, dan murah,” ucap guru les berenang di Grojogan Sewu itu.
(rul/WII)





