Sampling survei dinilainya penting dilakukan agar pihak kampus dalam menentukan besaran UKT tidak merugikan mereka yang benar-benar layak menerima keringanan.
“Selain itu kami mendapat informasi dari banyak calon mahasiswa baru yang kemungkinan gagal melanjutkan pendidikan karena orang tuanya tidak sanggup membayarkan besaran uang yang di terimanya,” bebernya.
Karena kata Yan, penetapan UKT yang dikritisi pihaknya tersebut bukan asal bunyi, salah satu calon mahasiswa Lambar yang tak disebutkan namanya melapor dan mengaku mendapat penetapan UKT yang tidak seharusnya.
“Ada salah satu mahasiswa asal Lambar mendapat beban UKT sebesar Rp4 juta. Sementara dia adalah seorang yatim piatu. Dengan fakta demikian kami menduga ada penyeleksian oleh pihak UIN RIL yang tidak tepat sasaran,” ujar Yan.
Yan berharap hal tersebut bisa menjadi perhatian serius oleh semua pihak agar tidak ada kesenjangan.
“Esensinya ialah tentu kita semua berharap agar semua orang bisa mendapatkan pendidikan yang layak,” tukasnya.
Hingga berita ini rilis pihak UIN RIL belum berhasil dikonfirmasi.
(erw/WII)





