LIWA, WAKTUINDONESIA – Ketua DPD RI AA Lanyala Mataliti mendapat gelar adat Batin Gusti Calak Perkasa Mangkunegara dari salah satu empat Kepaksian Sekala Bekhak di Lampung, Paksi Buay Pernong di Lampung Barat (Lambar).
Pemberian gelar adat itu dilangsungkan di Istana Kerajaan setempat, Pekon Balak, Kecamatan Batu Brak, Selasa (7/9/21).
Acara angkon muakhi atau pengangkatan saudara itu ditandai dengan penyerahan pin, flakat dan sertifikat serta kikat (penutup kepala) hanuang bani dan pedang pusaka oleh Paduka Yang Mulia (PYM) SPDB Pangeran Edward Syah Pernong Sultan Sekala Brak yang dipertuan ke-23.
“Secara resmi saudara AA Lanyala Mataliti menjadi keluarga dari Buay Pernong dengan Gelar Batin Calak Perkasa,” begitu titah sang sultan yang juga mantan kapolda Lampung 2015 tersebut.
Lanjut Pun Edwarsyah, sapaan melekat bagi Sultan Sekala Brak yang dipertuan ke-23 itu, gelar yang diemban mempunyai arti bahwa tersemat doa dan harapan kelak menjadi pemimpin negeri.
Kemudian lanjut Pun Edward, DPD RI ialah representatif daerah yang memgang peranan penting dan harapan rakyat, sehingga harapannya mampu mendorong pemerintah pusat untuk bersinergi terhadap unsur kerajaan nusantara dalam pembangunan.
Pun Edward juga menyebut pemberian penutup kepala Hanuang Bani kepada ketua DPD RI ialah makna filosopis yang diambil dari Hanuang atau Kambing Hutan dan Bani adalah berani.
“Secara historis agar menjadi sosok yang berani menegakan kebenaran, sesuai dengan mitologi Hanuang Bani yang pernah mengalahkan seekor harimau di puncak Gunung Pesagi,” ujar pensiunan jendral polisi bintang satu itu.
Sementara, Lanyala Mataliti menyampaikan terimakasih atas diberinya gelar adat dan penyerahan perangkat pusaka oleh Buay Pernong. Menurutnya, adat memegang peranan penting dalam sistem bernegara.
“Adat istiadat harus diakui keberadaanya dan adat turut berperan memperjuangkan kemerdekaan, bahkan keberedaannya ada jauh sebelum kemerdekaan itu sendiri,” kata dia.
Sehingga menurutnya, menghargai adat sama halnya menghargai Indonesia, perwujudannya, yakni menjadikan adat sebagai haluan pembangunan nasional.





