“Untuk waktu tayangnya nanti kita infokan,” singkatnya.
Masih kata Riyadi, sejatinya tayangan anak-anak di televisi swasta itu adalah mengelaborasikan kekayaan budaya yang ada di daerah lokasi syuting terkait dengan mode dialog dan dokumenter.
Bahkan, kata dia, dalam aksinya memainkan seni peran tersebut menggunakan bahasa daerah.
“Harapannya, dengan alur dokumenter yang telah ditetapkan, secara tidak langsung memperkenalkan kekayaan bahasa, potensi wisata dan budaya di Lambar,” tandasnya.
(erw/WII)





