Dia mengisahkan, sebelum pandemi, dirinya bersama Tim GLD merutinkan satu bulan sekali berkunjung ke lamban baca. Perihal biaya operasionalnya menggunakan dana pribadi.
“Pada tahun 2017, di Lambar hanya ada sembilan lamban baca. Dengan gencarnya sosialisasi tentang kegemaran membaca, hingga kini sudah hampir 90 lamban baca tersebar di 15 kecamatan,” paparnya.
“Lamban baca menjadi ujung tombak untuk mengkampanyekan budaya literasi pada anak – anak dan masyarakat,” imbuhnya.
Keberadaan lamban baca, kata Yusmala, manfaatnya kian dirasakan semua unsur termasuk orang tua siswa. Dimana dalam setiap kunjungan, dirinya selalu mendonasikan buku-buku minimal 60 buah di setiap lamban baca.
“Juga membawa hadiah antara lain buku, pensil, kotak penci, makanan kecil biskuit, susu, sekaligus mengadakan lomba mendongeng, diskusi kecil antar pengelola lamban baca, tebak-tebakan dan lomba bercerita tentang buku yang telah dibaca,” bebernya.
Kontribusi dan perhatian Yusmala dalam literasi bukan saja menyumbang buku dan perangkatnya, melainkan turut memproduksi lahirnya buku sebagai jendela dunia.
“Alhamdulillah diberi rezeki yang insyallah barokah, termasuk biaya penerbitan buku Aku, Buku dan Lamban Baca dan buku Surga di Bawah Pesagi dialokasikan sebagai dedikasi untuk dunia literasi,” ujarnya seraya memotivasi untuk berbagi.
Masih kata Yusmala, perhatian dan kontribusi serta keseriusan RSIA Bunda Liwa, dapat menjadi motivasi dan sumbangsih perusahaan di Lambar untuk mendukung program pemkab setempat.
“Harapannya agar muncul perusahaan yang memberikan CSR-nya berupa buku-buku yang berkualitas dan menarik. Bahan bacaan yang banyak sangat dibutuhkan,” harapnya.
Karena, hemat Yusmala, selama ini buku yang dibaca masih kurang, distribusi buku belum merata dan literasi perlu terus digalakkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi-informasi hoaks.
“Bagi saya, literasi adalah panggilan jiwa,” singkatnya.
Atas dedikasi dan semangatnya serta memprakarsai juga mendorong kegiatan budaya membaca dengan dana pribadinya yang kesemuanya dilakukan dengan tulus dan ikhlas.
Wajar penghargaan Nugra Jasa Dharma Pustaloka tahun 2021 dari Perpustakaan Nasional RI disandang oleh wanita yang akrap disapa bunda Yus itu.
“Saya haturkan terimakasih kepada Perpunas RI, Bupati Lambar, Bapak Parosil Mabsus, Kadis Perpusif Lambar Pak Yudha Setiawan, Ketua Tim GLD Makcik Partinia Parosil serta seluruh pengelola lamban baca dan pegiat literasi semua,” tukasnya.
(erw/WII)





