“Pertama masih banyak para pelaku UMKM menggunakan elpiji 3 Kg dengan jumlah besar 10-15 tabung,” sebutnya.
Lanjutnya, gas elpiji subsidi ini seharusnya hanya untuk masyarakat kelas menengah ke bawah atau warga kurang mampu.
Namun kenyataannya masih banyak warga golongan ekonomi ke atas masih menggunakan gas elpiji 3Kg.
“Masih membudaya di kalangan masyarakat kita. Tidak malu masih menggunakan gas (Elpiji) 3Kg. Padahal di tabung gas itu ada ditulis, hanya untuk masyarakat miskin,” ungkap Wardiansyah.
Terkait antrean yang tejadi di pangkalan selama ini umumnya para pengencer.
“Mereka datang silih berganti, suami, istri atau anak bertujuan supaya bisa mengumpulkan beberapa tabung. Akibatnya, masyarakat lain tidak kebagian,” tambahnya.
“Bahwa orang-orangnya itu-itu saja yang antre di pangkalan rata-rata para pengecer, dengan memperalat untuk mengambil gas tersebut suami, dan anak-anak mereka, itulah mengakibatkan gas cepat langka di pangkalan,” katanya.
Wardiansyah berjanji pihaknya akan terus meningkatkan pengawasan terhadap pendistribusian gas dari agen resmi ke pangkalan, termasuk dari pangkalan ke masyarakat.
“Sebagai tambahan apabila kita temukan bukti di pangkalan nakal tolong lapor ke dinas. Nanti dinas yang memberitahu kepada agennya. Untuk menindaknya maka pihak agen yang memutuskan hubugan kerjasamanya dengan pangkalan nakal tadi. Diagram alur dari pertamina – ke agen – dari agen ke pangkalan, begitu alurnya. Sementara dinas fungsi pengawasan. Pemutusan hubungan kerjasama tadi seperti alur diagram di atas,” pungkas Wardiansyah.
(fie)




