“Saya harap para pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai dengan undang-undang yang berlaku,” ujarnya.
Sementara itu, NAP menceritakan kronologis kejadian saat dirinya menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan teman sesama santri.
“Karena selisih faham lalu saya berkelahi dengan satu pelaku, kemudian datang lima temannya yang juga ikut memukul dan mengeroyok saya,” jelasnya.
“Setelah itu selesai, tidak lama kemudian para pelaku mendatangi saya lagi bahkan lebih ramai hingga 15 orang yang mengeroyok saya. Atas kejadian itu saya mengalami luka dibagian tangan, dan dipunggung saya,” timpalnya.
Sementara itu, pengurus Pondok Pesantren Darul Hufaz Ustadz Hafizullah mengatakan bahwa kejadian yang dialami NAP itu bukanlah pengeroyokan atau penganiayaan melainkan perkelahian.
“Itu bukanlah pengeroyokan, tapi perkelahian antara NAP dengan temannya, kemudian teman satunya melerai namun malah dipukul oleh NAP,” kata dia.
“Kita juga dalam waktu dekat akan melakukan mediasi terhadap orang tua kedua belah pihak, supaya masalah tersebut selesai dengan cara kekeluargaan,” pungkasnya.
(WII)





