Sejarah Nama Indonesia: Pribumi Disebut Orang Indonesia

  • Bagikan

Gambar peta kuno Indonesia sekitar tahun 1851. Istimewa

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bakal memeringati hari kemerdekaannya yang ke-76 pada 17 Aguatus 2021.

76 tahun silam, Presiden pertama Republik Indonesia, menjabat periode 1945–1967, Dr Ir H Soekarno memproklamasikan kemerdekaan itu didampingi Drs Mohammad Hatta di sebuah rumah hibah dari Faradj bin Said bin Awadh Martak di Jalan Pegangsaan Timur No 56, Jakarta Pusat.

Lantas bagaimana sejarah nama Indonesia?

Melansir Wikipedia, nama Indonesia bermula dari serangkaian sejarah yang puncaknya terjadi di pertengahan abad ke-19.

Catatan masa lalu, kepulauan di antara Indocina dan Australia disebut beragam.

Kronik-kronik bangsa Tionghoa menyebut kawasan tersebut sebagai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan).

Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata dalam bahasa Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang).

Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, diperkirakan Pulau Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Nama Indonesia berasal dari dua kata Yunani yaitu, Indus (Ἰνδός) yang berarti India dan kata Nesos (νῆσος) yang berarti pulau/kepulauan, maka Indo-nesia berarti kepulauan India.

Bangsa Arab menyebut wilayah kepulauan itu sebagai Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa).

Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab, luban jawi (Kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra.

Hingga kini jemaah haji asal Indonesia kadang kala masih sering dipanggil orang Jawa oleh orang Arab.

Dalam bahasa Arab juga dikenal nama-nama Samathrah (Sumatra), Sholibis (Pulau Sulawesi), dan Sundah (Sunda) yang disebut kulluh Jawi (Semuanya Jawa).

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok.

Mereka beranggapan, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia.

Jazirah Asia Selatan mereka sebut Hindia Muka dan daratan Asia Tenggara dinamai Hindia Belakang, sementara kepulauan ini memperoleh nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales).

BACA JUGA:  1 Meninggal 4 Dirawat Dirawat Akibat Kurang Oksigen

Nama lain yang juga kerap dipakai adalah Kepulauan Melayu (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais). Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda).

Pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini.

Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu Insulinde, yang artinya juga Kepulauan Hindia (dalam bahasa Latin insula berarti pulau).

Nama Insulinde ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama surat kabar dan organisasi pergerakan di awal abad ke-20.

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA, BI: Jurnal Kepulauan Hindia dan Asia Timur), yang dikelola seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh, James Richardson Logan (1819-1869).

  • Bagikan