Hari Tani 2020 : Krisis Pangan dan Pandemi

  • Bagikan

Waktuindonesia.id – 24 September selalu diperingati sebagai hari tani di Indonesia. Hari tani memang tidak seperti hari besar lainnya yang diingat oleh banyak orang, karena memang hari tani ada bukan untuk dirayakan melainkan untuk direnungkan. Terlebih lagi hari tani tahun ini di mana situasi pandemi mengganggu berbagai sektor termasuk pertanian menjadikan renungan itu semakin dalam dan mebingungkan.

Sejak akhir tahun 2019 dunia mulai
digemparkan oleh kemunculan virus baru yang berasal dari China, saat itu pula berbagai negara mulai berada dalam status waspada dan melakukan segala upaya untuk mencegah virus ini menyebar di wilayahnya, sebuah upaya yang ternyata belum berhasil karena toh virus ini mampu menyebar ke segala penjuru dunia.

Di Asia Tenggara sendiri sejak awal tahun virus ini sudah berhasil menyerang banyak negara, kecuali Indonesia. Saat di negara tetangga angka pertambahan kasus positif corona mulai melonjak, Indonesia secara ajaib tidak mencatatkan sama sekali adanya kasus positif corona di wilayahnya, hingga saat itu kita masih berseloroh bahwa corona bisa dicegah dengan makan nasi kucing.
Tetapi situasi dengan cepat berubah drastis ketika 3 orang warga Depok, Jawa Barat terkonfirmasi positif corona.

Kepanikan massal terjadi di mana-mana, orang-orang menyerbu toko-toko, pasar, dan swalayan guna memborong bahan pangan yang dikhawatirkan akan melonjak harganya. Situasi bertambah buruk ketika jumlah kasus semakin meningkat dan pemerintah mengumumkan akan memberlakukan PSBB yang akan membatasi pergerakan dan aktivitas penduduk.

Panic buying menjadi semakin merajalela. Di tengah situasi ini muncul kekhawatiran akan stok pangan yang semakin menipis karena proses produksi dan distribusi menjadi lebih sulit dan dibatasi, situasi ini menjadi semakin pelik karena tentu negara-negara yang biasanya dengan senang hati menjual kelebihan produksi pangannya ke Indonesia menjadi ogah untuk mengekspor bahan pangan dan lebih memilih menyimpan sendiri produksi pangannya karena mereka pun juga khawatir akan terjadi krisis pangan.

BACA JUGA:  VIDEO: Terkait Penemuan Macan Terluka, Begini Kata TNBBS

Karena kita tidak berhasil melakukan impor maka satu-satunya cara adalah menggenjot produksi dalam negeri, tapi hal ini juga sulit karena sawah yang sebelumnya ada kini telah menjadi perumahan yang tidak laku dan bandara yang sepi pengunjung.

Sebuah gagasan lama pun muncul kembali, mencetak sawah secara besar-besaran. Gagasan ini langsung menjadi sorotan banyak pihak, sebab berpotensi merusak kestabilan ekosistem karena luasan lahan yang akan dirubah menjadi sawah mencapai jutaan hektar. Selain itu, gagasan ini pun sebenarnya sudah pernah dicanangkan dan dieksekusi pada masa orde baru, yang ternyata program tersebut gagal total dan justru meninggalkan kerugian dan kerusakan lingkungan.

Tentu saja ketika program ini mulai diumumkan langsung menuai kecaman dari banyak pihak yang menganggap pemerintah tidak belajar dari kegagalan program serupa sebelumnya. Beberapa solusi ditawarkan oleh berbagai pihak, salah satunya solusi yang sebenarnya klasik yaitu diversifikasi pangan, hal ini sebenarnya masuk akal karena dahulu memang sumber pangan masyarakat lebih variatif dan tidak hanya beras.

Di berbagai wilayah dahulunya orang-orang umum menjadikan ubi-ubian dan tanaman lain seperti sagu sebagai sumber pangan utama mereka. Tetapi pada masa orde baru sumber-sumber pangan yang lebih variatif tersebut digantikan oleh beras yang kala itu produksinya terpusat di Pulau Jawa.

Perlahan kebiasaan mengonsumsi sumber pangan lainnya yang lebih variatif menjadi memudar dan hilang, hingga seperti sekarang ini banyak orang-orang yang merasa belum makan kalau belum makan nasi. Hal inilah yang kemudian menjadi tantangan besar untuk menjalankan solusi diversifikasi pangan, karena hal ini berarti masyarakat harus mengubah kebiasaannya yang paling mendasar.

  • Bagikan