“Menurut cerita warga, banyak warga kita dulu bermusim (beristirahat, red) ke curup tersebut. Karena memang di lokasi curup itu ada pohon besar dan rindang ditumbuhi rerumputan yang selalu berembun,” kata.
Kata bermusim adalah istilah warga setempat yang berarti beristirahat.
“Dan kalau kemarau di lokasi air terjun selalu ada tanda suara seperti suara besi beradu. Makanya ketika warga ke lokasi curup selalu menyebutnya Curup Jepun. Intinya Jepun itu adalah tempat masyarakat yang berkebun di sekitaran lokasi beristirahat sambil mandi dan menikmati panorama air terjun,” terus Gajahtera.
Gajahtera melanjutkan, pihaknya sepakat memberi nama Curup tersebut Curup Jepun Negeri Baru.
“Dan kami beri nama atau adok dalam bahasa Lampung Peraduan yang artinya Curup Penutup di aliaran Sungai Tangkas. Karena ada sebuah histori yang tidak bisa di hilangkan”, tegas Gajahtera.
Ia berharap curup itu menjadi objek wisata primadona di Way Kanan. “Karena ada eksotis tersendiri seperti sebuah pulau di tengah yang menghadap curup, air terjunnya membelah dua, ada tempat pemandian orang dewasa dan anak-anak, aliran sungai yang masih alami jernih nan elok disaat musim kemarau, yang tidak kalah penting bagi yang hobi Poto ada sunset membelakangi Curup tersebut,” cerita Gajahtera.
Dikatakan, bagi yang hobi memancing bisa menyalurkan hobinya memancing di sungai dengan ikan yang masih banyak sekali serta bisa melakukan Arum jeram yang tembus ke Dusun Way Ulai.
“Harapan kita adalah bermanfaat untuk menambah pendapatan ekonomi masyarakat dan Kampung. Menekan angka pengangguran walau masih terkendala dengan akses jalan karena masih tanah merah. Jika musim penghujan sulit untuk menuju lokas karena jalannya licin. Insak Allah kedepan kita akan prioritaskan pembagunan padat karya jalan menuju akses lokasi bersama Badan Permusyawatan Kampung dan kita mengharapkan Pemerintah Daerah Way Kanan dapat membantu prioritas pembangunan jalan ke lokasi curup tersebut,” tutup Gajahtera.
(roy/wii)





