“Bahkan kalau dulunya ada pemborong sekarang sudah tidak ada lagi dikarenakan dampak covid-19,” tambahnya.
Mau tak mau, omset pedagang pun terdampak.
“Selama 25 tahun lebih saya berjualan baru sekarang merasakan kesulitan,” ungkap Herlina.
Para pedagang hanya bisa mengeluh daan pendapatannya merosot mencapai 80 persen.
“Para pedagang hanya mengeluh karna daya beli bahan pokok berkurang. Yang biasanya berpenghasilan Rp10 juta perbulan kini hanya Rp2 juta saja,” katanya mencontohkan.
Laporan: Wahyudi Sentosa/ WII





