Dia memilih melakukan budidaya salak ini karena salah satu tanaman yang mampu bertahan di tengah erupsi gunung api Sinabung, yang mana dampak erupsi hanya berdampak pada keberhasilan hasil buah dan tidak menggangu hasil buah sama sekali.
Dan di masa pendemi covid 19 saat ini, tanaman salak juga mampu bertahan dengan harga relatif stabil diangka Rp9.000 sampai Rp10.000/kg.
Terkelin Kamperas Purba merupakan petani asal desa Kutambaru ini melakukan budidaya tanaman salak di areal perladangannya dengan luas tanah 7.000 meter persegi yang berada di kaki Gunung api Sinabung Tanah Karo. Yang mana petani ini menanamkan berbagi jenis salak, mulai dari salak madu, salak super dan salak Bali.
Sebelumnya, di lokasi perladangan milik Terkelin Kamperas Purba ini ditanami berbagai macam tanaman, mulai dari tanaman muda hingga tanaman buah-buahan, namun akibat erupsi gunung Sinabung yang terjadi sejak tahun 2010 silam seluruh tanaman miliknya mati akibat debu vulkanik dan lahar hujan Sinabung, “ujar Terkelin.
Laporan : Bambang F, Karo – WII





