“Kita tidak mau terjadi konflik antara harimau dengan warga dan wisatawan. Oleh karena karena itu, kami segera berkoordinasi dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Secara teknis merekalah yang memahami cara penanggulangannya. Apakah itu harimau yang memang selama ini tinggal di kawasan hutan Sibayak ataukah migrasi masih dipelajari. Karena kawasan Leuser cukup luas,” papar Ramlan.
Sementara, Kasi Konservasi BBKSDA Wilayah I Sidikalang yang menaungi kawasan Tahura Bukit Barisan, Tuahman Raya Tarigan, melalui telephon selularnya menjelaskan, pihaknya telah melakukan observasi, kajian lapangan, dan pemasangan kamera trap, sekaligus memintai keterangan sejumlah saksi mata.
“Ada rentang waktu sebulan lintasan harimau yang diperoleh dari keterangan saksi mata sesuai surat Kepala UPT Tahura BB per Agustus-September.
“Selain mengevaluasi rekaman kamera dalam waktu satu bulan kedepan. Kita tetap siaga dalam antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan”, ujar Tuahman.
Kepada warga sekitar dan pengunjung/wisatawan, Kasi Konservasi BBKSDA Wilayah I Sidikalang juga diimbau agar senantiasa mawas diri.
Warga dan pengunjung dihimbau tidak melakukan aktivitas pada malam hari. Upayakan melakukan pendakian di siang hari dan tidak seorang diri (berkelompok). Karena pada umumnya, harimau melakukan perburuan sore sampai malam hari.
“Khusus bagi warga yang bermukim di sekitar kawasan Tahura BB agar tidak beraktivitas sendiri-sendiri. Upayakan membawa hewan penjaga sebagai alarm, semisal anjing. Apabila dalam rekam jejaknya kedepan tetap melintasi kawasan yang sering dilalui manusia, amaka akan dilakukan pengusiaran ke area hutan yang lebih rimba,” pungkas Tuahman Raya Tarigan.
(rek/WII)





