Cerita Petugas Pemakaman Covid-19, Sesak dan Gerahnya dalam APD hingga Khawatir

  • Bagikan

LIWA, WAKTUINDONESIA – Para petugas pemakaman dengan protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 ternyata cukup tak nyaman bahkan tersiksa saat menjalankan tugas dengan mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap seperti baju hazmat, masker, pelindung wajah, pelindung mata, celemek atau apron.

Mereka harus menahan sulitnya bernafas, sesak dan gerahnya dalam balutan rapat APD.

Belum lagi aktivitas para petugas itu harus memikul peti dari mobil ambulan menuju titik pemakaman serta proses menutup liang lahat dengan tanah.

Tidak mengenakan APD saja napas kerap memburu alias terengah-egah. Tak terbayang, jika semua aktivitas itu dikerjakan dalam balutan APD. Apalagi masker tak sembarangan dibuka.

Hal itu diakui seorang petugas pemakaman dengan prokes coronavirus di Lampung Barat (Lambar), Mujiran SH yang juga Kabid Limas Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP), Mujiran SH, Kamis (8/4/21).

Menurut Mujiran, ia dan sembilan anggota Sat Pol PP telah tujuh kali menjalankan proses pemakaman dengan prokes sejak Januari 2021.

Kepada Waktuindonesia.id, Mujiran menceritakan sulitnya beraktivitas dengan mengenakan APD lengkap. Beruntung, ia dan sembilan anggotanya cukup terlatih.

Ia mengakui, tersulit saat proses pemakaman dengan prokes itu kala menimbun liang lahat.

“Itu yang susah bener. Jadi masker itu disentuh saat memakainya. Cuma sekali itu. Selebihnya nggak boleh disentuh. Jadi pengapnya luar biasa,” ujarnya.

Selain itu, saat mengenakan APD cukup gerah, keringat bercucuran. Saking gerahnya, ia menggambarkan, saat APD dilepas, kaus yang dikenakan penuh keringat, bisa diperas.

Kondisi seperti itu terjadi saat proses pemakaman dilakukan malam hari.

“Nah yang paling panas lagi kalau proses pemakaman itu di tengah teriknya matahari. Luar biasa itu gerahnya. Waktu pemakaman kan tidak tentu kadang-kadang siang,” tambahnya.

BACA JUGA:  Surat KPK Palsu di Pesibar Masuk Ranah Hukum, Polisi: Tahap Penyelidikan

Kondisi itu berakhir kala APD dilepas. Kemudian dikumpulkan dan dimusnahkan dengan dibakar.

Beruntung, proses pemakaman jarang mendapat penolakan dari pihak keluarga.

“Kami kan tugasnya pemakaman. Kalau yang menentukan dimakamkan dengan prokes atau tidak itu kan bukan wewenang kami. Mungkin itu disadari pihak keluarga makanya kami jarang mendapat hambatan dari pihak keluarga. Pihak keluarga malah mengucapkan terimakasih,” ceritanya.

Khawatir keluarga tertular

Meski proses pemakaman usai, para petugas itu kerap dihantui rasa khawatir tertular coronavirus.

“Dan takut menulari anggota keluarga,” katanya.

Untuk mengantisipasi kekhawatiran itu, para petugas menjaga jarak bahkan berpisah ruang dengan anggota keluarga lainnya dalam waktu tertentu.

Demikian pula saat berkantor di Sat Pol PP, rekan-rekan lain selalu waspada.

“Ya kalau pas ngantor itu. Kadang kawan-kawan bilang sambil becanda, ‘dari proses pemakaman Covid-19, jangan dekat-dekat,’ kadang mobil disuruh cuci lagi,” seloroh Kabid Mujiran.

Bagaimana dengan lingkungan tempat tinggal?

“Kalau tetangga biasa aja. Patuh prokes pasti. Namun kadang ada tetangga bertanya gambaran dan proses pemakaman,” ujarnya.

Selama ini ada petugas terinfeksi atau reaktif?

“Tidak ada. Sampai saat ini aman. Asal disiplin mudah-mudahan aman,” tandasnya.

Laporan/Editor: Merli Sentosa

  • Bagikan