“Ya, semoga aja harganya kedepan bisa turun mas, jika naik terus bisa repot, kami harus mengeluarkan uang tambahan untuk beli minyak goreng,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Pesawaran, Awaludin, membenarkan jika ada kenaikan harga pada minyak goreng.
“Betul untuk harga minyak goreng ada kenaikan beberapa waktu terakhir, ini juga kita temukan saat tim melakukan monitoring pengawasan dan pemantauan satgas pangan di pasar Sukaraja, Kecamatan Gedong Tataan. Pada tanggal 11 November 2021 harga minyak goreng Bimoli Rp18 ribu per Kg, kemudian kita lakukan sidak lagi pada tanggal 18 November 2021 harganya naik jadi Rp19 ribu, minyak goreng curah juga sama mengalami naik seribu rupiah,” ujarnya.
“Tapi memang kenaikan harga minyak goreng ini terjadi secara nasional, karena berkurangnya pasokan CPO akibat peremajaan produksi sawitnya,” timpalnya.
Kendati demikian, ia memastikan stok ketersediaan minyak goreng di Kabupaten Pesawaran masih aman dan cukup selama beberapa waktu kedepan.
“Saya juga menghimbau kepada masyarakat untuk tidak panic buying (Membeli karena panik) atau membeli minyak goreng dalam jumlah banyak dan menyimpannya, sebab itu bisa mempengaruhi stok ketersediaan minyak goreng, apalagi sampai menimbunnya itu yang tidak boleh,” ucap dia.
“Pada prinsipnya, kita sebagai Pemerintah Daerah fokus pada ketersediaan stok barangnya, jika terjadi kelangkaan, tentunya kita akan ambil langkah lainnya, dan sejauh ini memang yang jadi perhatian adalah kenaikan harga minyak goreng, kita juga akan terus melakukan pemantauan terhadap progres harganya, jika kenaikan harganya sudah melebihi batas wajar pasti kita akan segera berkoordinasi dengan stakeholder terkait,” tandasnya.
(apr/WII)





