Diskan Lampung Barat Catat Estimasi Kerugian Dampak Ikan Mati Massal di Danau Ranau, ini Angkanya

  • Bagikan

LAMPUNG BARAT, WAKTUINDONESIA – Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Lampung Barat mencatat jumlah ikan budidaya keramba jaring apung (KJA) di Danau Ranau Pekon (Desa) Kagungan Kecamatan Lumbok Seminung yang mati massal akibat fenomena mentilehan sebanyak 219 ton.

Secara estimasi, fenomena itu berdampak terhadap kerugian pembudidaya mencapai Rp4,3 miliar.

Hal itu diungkapkan Sekertaris Dinas Perikanan Perikanan Lampung Barat, Relegius mewakili Kepala Dinas Kamaludin, saat ditemui di tempat kerjanya, Rabu (18/1/23).

Menurutnya data tersebut diperoleh timnya yang telah diturunkan untuk meninjau langsung kondisi terkini di JKA di danau terbesar kedua di tanah air itu.

“Untuk saat ini kondisi kadar oksigen di perairan Danau Ranau khususnya Lumbok mulai normal saat ini kadar oksigen sudah di angka 2 miligram perliter dari sebelumnya yang bahkan di bawah 1 sampai 1,8 M/L dan mudah-mudahan fenomena ini bisa berakhir dan kondisi perairan Danau Ranau bisa normal kembali,” kata Relegius.

Relegius juga mengatakan, saat ini pihaknya tengah membahas juklak-juknis terkait penanggulangan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dan Dinas Perikanan Provinsi Lampung untuk menganggarkan jaring dan jangkar.

“Kita juga sudah bicarakan dengan Pemerintah Provinsi bagaimana langkah-langkah dalam penyelesaian permasalahan ini, untuk saat ini kan para petani kita di lumbok memakai jangkar terbuat dari karung yang isinya batu, dan kita sedang upaya untuk meminta bantuan kepusat,” ujar Relegius.

Perlu diketahui, berdasarkan data yang diperoleh dinas perikanan setempat, di perairan Lumbokseminung setidaknya ada sebanyak 103 pembudidaya ikan KJA terdampak. 50 di antaranya yang paling parah.

Total hingga tadi siang pihaknya baru mencatat 219 ton ikan mati. Jumlah itu diperkirakan bakal bertambah lantaran ada beberapa yang belum melapor ke pihaknya.

BACA JUGA:  KAI Siapkan Pedoman New Normal untuk Pelanggan Kereta Api

“Jumlah itu sementara yang masuk. Kemungkinan bisa bertambah. Ada beberapa pembudidaya yang belum melapor,” katanya.

Sekadar diketahui, Danau Ranau memiliki luas sekitar 125,95 hektar.

Dari angka itu, sekitar 2,832 hektare secara administratif masuk wilayah Lampung Barat dan baru sekitar lima hektar yang dimanfaatkan untuk budidaya ikan nila via JKA.

Jika normal, hasil produksi ikan nila di Lumbokseminung itu dalam setahun bisa mencapai kurang lebih 6.000 ton dengan penjualan ke berbagai daerah seperti Sumatera Selatan, Jakarta dan Surabaya, Cirebon dan Provinsi Lampung.

“Sebelum adanya fenomena alam ini, dalam sehari para petani KJA bisa memanen ikan 15-20 ton ikan dengan daya jual Rp20 ribu sampai Rp22 ribu,” pungkas Relegius.

(WII)

  • Bagikan