Menurut Wildan, hal itu merupakan bentuk ekspresi publik sebagai wujud partisipasi masyarakat yang demokratis guna menjaga keberlangsungan proses demokrasi.
“Jangan sampai pola-pola tersebut justru memperparah iklim demokrasi di Indonesia dan membuat masyarakat takut untuk mengoreksi pemerintah, negara, dan isu demokrasi memang menjadi pembahasan yg menarik,” timpalnya.
“Pembahasan ini harus digalakkan di kalangan milenial, termasuk politik inklusif, harus menjadi cara berpolitik anak muda agar stagnasi hingga laju regresi demokrasi bisa ditekan menjadi kemajuan demokrasi,” jelasnya.
Saya berharap kedepan generasi Milenial menjadi lokomotif untuk menggalakkan isu perbaikan demokrasi ke generasi muda.
“Agar gen z sebagai back bone bangsa siap menyongsong kepemimpinan bangsa ke depannya,” tutupnya.
Selain itu, mereka juga lebih aktif dalam menggunakan teknologi dan media sosial untuk berpartisipasi dalam politik dan mempengaruhi kebijakan.
“Atas dasar itu, keduanya merekomendasikan bahwa pemimpin politik dan partai politik sangat penting untuk memperhatikan pandangan dan kebutuhan generasi ini, serta mengakomodasi keinginan mereka dalam kebijakan politik dan kampanye pemilihan. Mereka juga menyatakan bahwa generasi ini akan memainkan peran yang semakin besar dalam politik pada masa depan, karena jumlah mereka yang besar dan pengaruh yang mereka miliki melalui media sosial,” jelas dia.
Namun demikian, penting untuk diingat bahwa tidak semua individu dalam kelompok demografi ini memiliki pandangan politik yang sama. Setiap orang memiliki pandangan dan keyakinan mereka sendiri, dan ada perbedaan yang signifikan dalam preferensi politik bahkan di antara generasi yang sama. Oleh karena itu, penting untuk tidak menggeneralisasi atau mengasumsikan pandangan politik seseorang berdasarkan kelompok demografi mereka.
“Kepemimpinan dalam konteks millenial dan gen-Z memerlukan perhatian khusus pada nilai, sikap, dan preferensi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Salah satu aspek terpenting dari kepemimpinan di era ini adalah memahami nilai-nilai yang dipegang oleh kedua generasi ini. Kedua kelompok ini dikenal memiliki kepedulian yang tinggi terhadap keseimbangan kerja-hidup dan nilai-nilai yang berkaitan dengan keterlibatan sosial dan lingkungan. Kepemimpinan yang efektif harus mampu memahami dan menghargai nilai-nilai ini serta berupaya untuk memenuhi kebutuhan mereka,” kata Wildan.
Selain nilai, sikap juga merupakan faktor penting dalam kepemimpinan di era ini. Kedua generasi ini cenderung lebih terbuka terhadap perubahan dan lebih suka bekerja dalam team.
Kepemimpinan yang efektif harus memanfaatkan kemampuan mereka untuk bekerja dalam team dan membangun lingkungan kerja yang positif dan inklusif. Selain itu, generasi millenial dan gen-Z juga cenderung lebih memilih gaya kepemimpinan yang kolaboratif dan horizontal, yang menempatkan penekanan pada dialog dan partisipasi.
“Kedua generasi ini lebih cenderung mencari fleksibilitas dalam cara mereka bekerja dan memilih lingkungan kerja yang lebih terbuka dan inklusif. Kepemimpinan yang efektif harus menyediakan lingkungan kerja yang memungkinkan karyawan untuk bekerja dengan cara yang paling efektif bagi mereka, termasuk fleksibilitas waktu dan ruang,” jelasnya.
“Selain itu, kepemimpinan juga harus mempertimbangkan preferensi generasi ini terhadap teknologi dan cara kerja yang lebih terhubung secara digital. Dalam hal kepemimpinan, generasi millenial dan gen zen membutuhkan pemimpin yang dapat memahami dan menghargai nilai-nilai, sikap, dan preferensi mereka. Kepemimpinan yang efektif harus mengambil pendekatan kolektif,” pungkasnya.
(Rls)





