Di bawah kepemimpinan Parosil Mabsus, pembangunan sektor pertanian di Lampung Barat tidak hanya terfokus pada peningkatan hasil produksi semata, tetapi juga pada keberlanjutan sistem pangan dari hulu ke hilir.
Berbagai program strategis telah digulirkan untuk memperkuat ekosistem pertanian dan ketahanan pangan, mulai dari penyediaan bantuan benih unggul, penyuluhan intensif bagi petani, pengembangan infrastruktur pertanian, hingga penciptaan pasar yang stabil bagi produk-produk lokal.
“Petani adalah pahlawan pangan. Maka sudah menjadi kewajiban kami untuk memastikan mereka mendapat dukungan penuh,” ujar Parosil dalam salah satu agenda panen raya di Kecamatan Balik Bukit.
Ucapan ini bukan sekadar retorika. Program “Petani Berjaya” dan “Kartu Petani Berjaya” yang digagas pemerintah daerah menjadi bukti nyata keberpihakan pemimpin terhadap sektor paling mendasar dalam kehidupan masyarakat.
Lampung Barat juga menjadi kabupaten yang aktif mengintegrasikan teknologi pertanian berbasis data untuk meningkatkan efisiensi lahan dan produksi.
Melalui kerja sama dengan lembaga penelitian dan perguruan tinggi, pemerintah kabupaten berhasil memperkenalkan sistem pertanian presisi, penggunaan pupuk organik ramah lingkungan, serta sistem irigasi hemat air yang semakin diminati petani lokal.
Di sisi lain, Bupati Parosil juga tak lupa menyentuh aspek hilir melalui pembangunan sentra-sentra agroindustri di beberapa kecamatan.
Hal ini bertujuan agar produk pertanian tak hanya dijual sebagai bahan mentah, melainkan diolah lebih lanjut untuk meningkatkan nilai tambah. Salah satunya adalah pengolahan kopi robusta Lampung Barat, yang kini telah menembus pasar nasional dan internasional.
Lebih dari itu, pendekatan ketahanan pangan yang diambil oleh Parosil juga mencakup dimensi sosial dan budaya.
Program diversifikasi pangan lokal seperti singkong, pisang, dan umbi-umbian lokal didorong sebagai alternatif pangan pokok.
Strategi ini bukan hanya menjaga kearifan lokal, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada beras dan meningkatkan ketahanan pangan keluarga.
Menurut data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lampung Barat, indeks ketahanan pangan kabupaten meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir, dengan Lampung Barat berada pada posisi strategis sebagai daerah penyangga pangan untuk wilayah Lampung bagian barat dan sekitarnya.
Ketahanan pangan bukan sekadar urusan ladang dan lumbung, tapi juga kepemimpinan yang berpihak dan berani mengambil keputusan jangka panjang. Dalam hal ini, Bupati Parosil Mabsus telah menunjukkan bagaimana seorang pemimpin daerah mampu menciptakan transformasi nyata di sektor paling vital bagi kelangsungan masyarakat.
Dengan fondasi yang kuat dan komitmen yang terus terjaga, masa depan ketahanan pangan Lampung Barat tampak kian cerah. Kabupaten ini bukan hanya menjadi lumbung pangan regional, tetapi juga contoh bagaimana kolaborasi antara pemerintah, petani, dan masyarakat dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun kemandirian pangan yang berkelanjutan. (WII/ADS)





