LIWA, WAKTUINDONESIA – Upaya Kabupaten Lampung Barat (Lambar) dalam menjaga lingkungan dan melestarikan hutan tidak diragukan lagi.
Sejumlah program dan komitmen usai dan tengah digulirkan hingga kini.
Sayang, upaya itu dinilai kurang imbal balik dari penerima manfaat atas upaya Lambar itu. Praktik istilah ‘Simbiosis Mutualisme’ kurang tampak nyata.
Hal tersebut terungkap saat Wildlife Conservation Society (WCS) menggelar diskusi dengan Bupati Parosil Mabsus di rumah dinasnya di komplek Kebun Raya Liwa (KRL) Pekon Kubu Perahu Kecamatan Balik Bukit, seperti dalam keterangan yang diterima Waktuindonesia.id, Selasa (9/2/21) malam.
Pertemuan yang digelar sebagai tindak lanjut komitmen WCS dalam mendukung Lambar sebagai kabupaten konservasi tersebut juga dihadiri Deputi Menejer Lanskip Pusat, Jerry Imansyah; Lanskip Manage WCS Bukit Barisan Selatan, Firdaus Rahman; Tabah Priambodo Kordinator Kornit Satwa dan Masadi Prodak Komoditas Berkelanjutan beserta sejumlah robongan lainnya.
WCS yang notabene merupakan organisasi bergerak di bidang kelestarian lingkungan hidup dan satwa liar tersebut memberikan dukungan penuh terhadap Lambar dalam menjaga lingkungan dan kelestarian alam.
Bahkan WCS berkomitmen untuk membantu Lambar dalam memperjuangkan kompensasi atas jasanya dalam menjaga lingkungan dan merawat hutan yang menjadi sumber penghidupan bagi daerah lain yang ada di Provinsi Lampung itu.
“Sudah seharusnya ada kontribusi dari daerah lain yang ada di Provinsi Lampung terhadap Lambar. Mengingat Lambar merupakan daerah resapan air bagi daerah lain di provinsi ini,” terang Jerry.
Di beberapa daerah, lanjut Jery, kabupaten penerima manfaat atas resapan air memiliki kewajiban untuk berkontribusi dalam melestariakan lingkungan dan alam dimana sumber resapan air itu berada.





