“Pernah ada peninjauan dari pemerintah tapi hanya di ukur dan di foto-foto saja. Tapi sampai saat ini belum ada perbaikanya,” katanya.
Tidak adanya diperbaiki, lanjut Ali, membuat masyarakat setempat sempat berupaya memperbaiki jalan dengan swadaya. Yakni, dengan bergotong royong mebimbun bahu jalan yang berlubang. Namun, upaya tersebut tidak bertahan lama. Sebab, matrial yang mereka gunakan hanya menggunakan tanah dan pasir gunung.
“Pernah juga ada upaya dari warga sekitar untuk bergotong-royong dengan cara menimbun dengan pasir. Tapi apa daya kami hanya menggunakan alat seadanya. Jadi tidak lama jalan berlubang lagi,apa lagi saat hujan jalan menjadi berlumpur dan becek sementara kalau panas jadi debu,” ucapnya.
Keluhan yang sama juga dilontarkan salah satu pengguna jalan, Dadang sempat melintas. Dimana, dirinya yang berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling kerap melintasi jalan tersebut untuk menjajakan jasanya.
“Saya sebagai pengguna jalan dan berkeliling menjajakan jasa saya sebagai tukang sol sepatu keliling merasa terganggu dengan jalan yang berlubang terkadang becek kalau hujan dan kalau musim kemarau seperti iniĀ menjadi debu,” keluhnya.
Laporan : Wahyudi / WII





