Harga ‘Musuhi’ Petani Rampai, Memerah di Lahan di Kedaung

403

BANDARLAMPUNG, WAKTUINDONESIA – Masyarakat pembudidaya rempah-rempah (Petani sayuran) di Provinsi Lampung sejak ditetapkannya masa pandemi covid-19 mulai merasakan dampaknya, dengan berbagai kendala bahkan hasil panen dan jual tidak sedikitpun berpihak kepada mereka.

Bahkan salah satu petani yang bercocok tanam rampai (Tomat tapi ukuran lebih kecil) mengaku merugi sehingga hasil tanamnya dibiarkan begitu saja, karena tidak sesuai dengan biaya yang sudah dikeluarkan untuk bercocok tanam dan merawatnya.

Diceritakan salah seorang ibu rumah tangga yang juga menekuni budidaya bahan sayuran yang ada daerah Kedaung, Kemiling, Bandarlampung, Mutmainah, bahwa dirinya bercocok tanam bahan sayuran sudah dilakukannya sejak puluhan tahun lalu. 

Bahan-bahan sayuran yang ia tanam tersebut disesuaikan dengan kondisi cuaca masa penanaman. Namun kebanyakan dirinya lebih memilih menanam rampai. Untuk lahan bertanam menurutnya dia melakukan aktivitas di sekitar lahan seluas seribu dua ratus meter persegi. 

Dikatakan Mutmainah, sejak masa pandemi dirinya sangat merasakan dampak dari wabah yang telah mendunia ini. Sebagai petani dia menyatakan, selain dari kerugian materi juga tenaga sudahlah pasti dirasakan para petani saat ini.

Hal itu selain dari kesulitan untuk mendapaan bahan-bahan pedukung pertanian (pupuk), hasil panen juga menurun dan kualitasnya juga megalami kemerosotan ditambah lagi dengan harga jual sangat turun draktis bahkan bisa dibilang tidak berhaga. 

“Selama masa covid harga jual rampai murah dan dijual tidak laku, akhirnya kita bagi-bagikan ke warga. Ada yang ngasih duit diambil, yang minta saja tak kasih juga. Bagaimana enggak, rampai ini sudah lewat masa panennya, kebanyakan sudah busuk dipohonnya, ini semua kerana tidak laku dijual,” kata Mutmainah.

Di lahan berukuran seribu dua ratus meter persegi itulah dirinya bercocok tanam sayur rampai, dan selama masa pandemi covid-19 dirinya mengalami kerugian karena harga jual hasil panen rampai sangat murah. Dikatakanya untuk harga perkilogramnya hanya seharga seribu rupiah dan itupun yang membelinya tidak ada sehingga hasil rampainya dibagi-bagikan ke warga disekitar tempat tinggalnya.

BACA JUGA:  BPUM Tahap II di Lambar Dibuka, Ini Syaratnya

Sementara, lanjut Mutmainah, dalam usaha bercocok tanam rampai sejak membuka lahan, bibit hingga perawatannya dan masuk masa panen jika bisa terjual semua dirinya mampu mendapatkan keuntungan yang mencapai dua juta rupiah setelah modal awal disisikan untuk modal bercocok tanam kembali. Namun dengan kondisi saat ini karena tidak laku dijual dia menuturkan mengalami kerugian.

“Kalau sekarang jangan kan mau untung, rugi malah ia,” cetus ibu Mainah, dengan rasa penuh harap pemerintah bisa lebih memperhatikan nasip para petani.

Mutmainah juga menyampaikan harapannya kepada Pemerintah agar dapat memperhatikan nasip petani. Permintaan itu penuh dasar karena untuk keberlangsungan semua membutuhkan petani. Bahan-bahan makanan pokok yang ada itu dihasilkan oleh petani. Dia juga menggambarkan jika petani tidak ada maka semua akan merasakan kesulitan.

“Saat ini kami bertani untuk menyambung hidup hingga kedepannya namun kalau seperti ini terus gimana kami bisa memenuhi kebutuhan hidup,” ungkap Ibu Mainah dengan penuh harap agar Pemerintah bisa memperhatikan petani.

Pantauan wartawan Waktuindonesia.id di kebun rampai pada Minggu (4/10/2020) tampak buah rampai sudah memerah dan dibiarkan begitu saja. Namun karena antusiasme warga Perum Sakura Residence untuk membantu ibu Mutmainah, sehingga diberikan uang seikhlasnya untuk mengambil sekedar untuk membuat sambal bagi warga Perum Sakura Residence.

Salah satunya Ketua RT 07 LK I Kelurahan Kedaung Perum Sakura Residence Benny Sitanggang juga ikut mengantarkan ke kebun tersebut. (fik/WII)

Facebook Comments