Harga ‘Musuhi’ Petani Rampai, Memerah di Lahan di Kedaung

  • Bagikan

BANDARLAMPUNG, WAKTUINDONESIA – Masyarakat pembudidaya rempah-rempah (Petani sayuran) di Provinsi Lampung sejak ditetapkannya masa pandemi covid-19 mulai merasakan dampaknya, dengan berbagai kendala bahkan hasil panen dan jual tidak sedikitpun berpihak kepada mereka.

Bahkan salah satu petani yang bercocok tanam rampai (Tomat tapi ukuran lebih kecil) mengaku merugi sehingga hasil tanamnya dibiarkan begitu saja, karena tidak sesuai dengan biaya yang sudah dikeluarkan untuk bercocok tanam dan merawatnya.

Diceritakan salah seorang ibu rumah tangga yang juga menekuni budidaya bahan sayuran yang ada daerah Kedaung, Kemiling, Bandarlampung, Mutmainah, bahwa dirinya bercocok tanam bahan sayuran sudah dilakukannya sejak puluhan tahun lalu. 

Bahan-bahan sayuran yang ia tanam tersebut disesuaikan dengan kondisi cuaca masa penanaman. Namun kebanyakan dirinya lebih memilih menanam rampai. Untuk lahan bertanam menurutnya dia melakukan aktivitas di sekitar lahan seluas seribu dua ratus meter persegi. 

Dikatakan Mutmainah, sejak masa pandemi dirinya sangat merasakan dampak dari wabah yang telah mendunia ini. Sebagai petani dia menyatakan, selain dari kerugian materi juga tenaga sudahlah pasti dirasakan para petani saat ini.

Hal itu selain dari kesulitan untuk mendapaan bahan-bahan pedukung pertanian (pupuk), hasil panen juga menurun dan kualitasnya juga megalami kemerosotan ditambah lagi dengan harga jual sangat turun draktis bahkan bisa dibilang tidak berhaga. 

“Selama masa covid harga jual rampai murah dan dijual tidak laku, akhirnya kita bagi-bagikan ke warga. Ada yang ngasih duit diambil, yang minta saja tak kasih juga. Bagaimana enggak, rampai ini sudah lewat masa panennya, kebanyakan sudah busuk dipohonnya, ini semua kerana tidak laku dijual,” kata Mutmainah.

BACA JUGA:  Teriakan Karyawan Gagalkan Aksi Perampokan Toko Emas di Batubara
  • Bagikan