Terungkap! 5 Fakta di Balik Konflik Satwa dan Manusia di BnS Lambar

922

Seorang petugas tengah memberikan pengarahan kepada warga. Foto: ist

LIWA, WAKTUINDONESIA – Sejak sepekan terakhir konflik satwa liar dan manusia di Bandarnegeri Suoh (BnS), Lampung Barat (Lambar) kembali terjadi.

Menurut Kepala Resort Suoh/Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Sulki, konflik gajah dengan masyarakat di beberapa titik di BnS terjadi sejak 2 November 2020.

Hingga 9 November 2020, tercatat 51 gubuk warga di sejumlah titik dirusak kawanan gajah yang berjumlah 12 ekor itu.

Menurut Sulki, pihaknya membantu masyarakat agar mengungsi ke tempat kerabat yang aman dari jangkauan mamalia bertubuh besar ini. Termasuk menyelamatkan harta benda yang berharga.

“Evakuasi masyarakat dan menyelamatkan barang yang berharga ke tempat sanak saudaranya,” ujar Sulki saat dihubungi Waktuindonesia.id, Rabu (11/11/2020) malam.

Namun begitu, sejumlah fakta terungkap dibalik konflik satwa liar dan manusia tersebut:

1. Lokasi di dalam TNBBS

Karesort Sulki sempat membeberkan jika lokasi konflik gajah dan warga itu diakui di wilayah TNBBS.

2. Berjarak 4,4Km dari Pal Batas masuk TNBBS

Menurut Sulki, keberadaan masyarakat di dalam kawasan 4.4Km dari pal batas TNBBS

3. Koordinat Lokasi Konflik Satwa-Manusia

Sulki juga membeberkan koordinat sejumlah titik lokasi konflik dimaksud, yakni Pal 4276 koordinat 0417034/9426284 ke Talang Darmi sekitar 4,4Km. Koordinat Talang Darmi sendiri yaitu 0413056/9428097.

Kemudian ke Talang Rusdi sekitar 5,7KM. Kordinat Talang Rusdi 0411493/9427774 Pal 4276 kordinat 0517034/9426284.

Kemudian ke Talang Masjid atau Talang Gakah sekitar 6,5KM. Kordinat Talang Masjid 0411080/9429027.

Lokasi itu tercatat masuk TNBBS.
“Betul semua di dalam kawasan TNBBS,” ujarnya.

4. Jumlah Gubuk Rusak 51 Unit

Kerusakan gubuk yang secara administratif di Pekon Bumi Hantatai, BnS ini mencapai 51 gubuk.

BACA JUGA:  Mangkir, Kejari Pesawaran Jadwalkan Ulang Pemanggilan Mantan Kades Pekondoh

Rinciannya, Talang Masjid/ Gajah 17 gubuk; batu Kapal Komplek sumantak 6; Komplek Patos 5; Komplek Irwan 7; dan Talang Harno 6.

“Jadi jumlah seluruh yang rusak gubuk di Pekon Bumi Hantatai 41, itu terjadi mulai dari tanggal 2 November 2020 – 7 November 2020,” sebutnya.

Kemudian, pada 8 November¬† di Talang Mbah Rusdi 9 gubuk rusak dan 9 November satu lagi gubuk rusak. “Maka jumlah seluruh 51 pondok,” ujarnya.

5. Petugas tetap memertimbangkan sisi Humanis

Kendati sebagian besar lokasi konflik masuk wilayah TNBBS, patugas tak serta merta melakukan pengusiran. Sulki mengakui jika pihaknya juga memertimbangkan dari sisi kamanusiaan.

Gimana-gimana juga kita (Petugas, Red) lindungi semua, baik itu masyarakat ataupun satwanya. Dikarenakan hidup harus berdampingn, kita (pihaknya) pakai sila ke-3, Kemanusiaan yang Adil dan Beradap,” pungkasnya.

(esa/WII)

Facebook Comments