Diduga Pungli, Akhirnya Kaur Kesra Cilimus di Nonaktifkan

  • Bagikan

TELUKPANDAN, WAKTUINDONESIA – Setelah diduga melakukan pungutan liar (Pungli) dalam pembuatan Kartu Keluarga sementara kepada warga setempat, Kepala Urusan (Kaur) Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Desa Cilimus Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran Waluyo Sugito dinonaktifkan dari jabatannya.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Desa Cilimus Ahmad Yani, saat dikonfirmasi, Jumat (18/12) melalui sambungan telepon.

“Sementara kita non-aktifkan untuk menjaga kondusifitas di lingkungan pemerintahan desa, karena kami memang menentang keras pungutan kepada masyarakat,” ungkapnya.

Langkah tersebut diambil setelah dirinya meminta pendapat pihak-pihak terkait agar roda pemerintahan desa tetap berjalan dengan baik sehingga masyarakat bisa tetap dilayani secara maksimal.

“Agar tidak gaduh dan tidak menimbulkan persepsi buruk di mata masyarakat ya kita non-aktifkan sampai urusan yang bersangkutan selesai,” kata dia.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Urusan (Kaur) Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Desa Cilimus, Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran Waluyo Sugito diduga melakukan pungutan liar (pungli) pembuatan Kartu Keluarga sementara warga Desa setempat.

Salah seorang warga menceritakan, dirinya dan istri hendak membuat Kartu Keluarga sementara guna persyaratan peminjaman modal usaha, namun dirinya dimintai sejumlah uang oleh Waluyo Sugito.

“Kami orang susah pak, istri mau buka warung kecil-kecilan jadi pinjam koperasi, waktu ngurus KK sementara malah diminta Rp.150 ribu,” ujarnya, Kamis (17/12) dikediamannya.

Karena kebutuhan mendesak akhirnya dia memberikan apa yang diminta Waluyo Sugito namun tidak sepenuhnya.

“Daripada tidak bisa pinjam koperasi ya saya kasih saja pak, namun cuma Rp.100 ribu saja, karena memang saya juga mau ngambil uang sakit (berbunga),” lanjutnya.

Saat dikonfirmasi, Waluyo Sugito membenarkan adanya pungutan tersebut, hanya saja dia beralasan dan yang diambil untuk membuat KTP maupun KK untuk kemudian hari.

BACA JUGA:  Dari Selalu Berembun hingga Suara Besi Beradu, Cerita di Balik Curup Jepun Negeri Baru Way Kanan

“Jadi uang itu saya ambil untuk membuat KTP dan KK mereka, daripada nanti uangnya habis, karena mereka ambil pinjaman ke koperasi kan saya yang ngurus,” kilahnya.

(rob/apr/WII)

  • Bagikan