Kasus Konfirmasi Positif Covid-19 Meningkat, Pringsewu Masuk Zona Merah

  • Bagikan

PRINGSEWU, WAKTUINDONESIA – Kasus konfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Pringsewu semakin hari meningkat, hinga masuk menjadi zona merah (red zona) Covid-19

Menurut Juru Bicara Penanganan dan Percepatan Covid-19, Nofli Yurni jumlah total kasus terkait virus corona hingga hari ini berjumlah 248 kasus.

Dengan rincian 45 orang masih melakukan isolasi mandiri, 193 orang sembuh, meninggal dunia 10 orang, kasus probable/meninggal 8 orang dan suspect 23 orang.

“Dari penambahan kasus baru-baru ini, rata-rata dari kalangan tenaga kesehatan (nakes) dan juga ASN,” kata Nofly, Selasa (19/1)

Padahal, kata Nofli sejak pandemi Covid-19 dari Maret hingga Oktober 2020, kasus terkonfimasi positif di Pringsewu hanya sejumlah 26 orang.

“Kemudian kasus meningkat dari November 2020 sampai Januari 2021. Penambahan sampai 220 kasus lebih. Maka dari itu Pringsewu masuk zona merah,” tambahnya.

Diakui Nofly, sejauh ini Gugus Tugas sudah berusaha secara maksimal untuk menekan dan meminimalisir penambahan kasus Covid-19

“Yah saya gak ngerti lagi, semua sudah dirapatkan, semua sudah bergerak. Akan tetapi faktanya sampai hari ini, tenaga kesehatan banyak yang terpapar Covid,-19,” pungkas dia.

Terpisah, Ketua Komisi IV DPRD Pringsewu Suryo Cahyono mengatakan, Pringsewu masuk zona merah karena kurangnya sosialisasi dari Gugus Tugas Covid-19 kepada masyarakat.

“Ya kalau kaitan dengan zona merah berarti pelaksaan Perbup kita sampai tingkatan implementasi kebawah itu belum dipatuhi. Lalu masyarakat masih menganggap Covid-19 ini penyakit biasa,” kata Cahyo saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Menurut Cahyo, Pemerintah harus secara masif menggencarkan sosialisasi 3M ( memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak). Dan perketat kalau ada acara-acara yang menimbulkan keramaian, minimal ditunggu oleh Gugus Tugas seperti di Bandarlampung.

BACA JUGA:  4 Cek Dibatalkan Putusan Perdata Namun Dijadikan Objek Pidana, Penasehat Hukum Keberatan

“Meskipun kita tidak memberhentikan, tapi dalam konteks acara keramaian, harus tetap lakukan protokol kesehatan. Dan kalaupun tindakan preventif dinilai tidak cukup, harus dilakukan tindakan represif sesekali,”  pungkasnya.

(Rul/WII)

  • Bagikan