Ada 25 Kasus, Dinkes Pesisir Barat Maksimalkan Penanganan Stunting

  • Bagikan

KRUI, WAKTUINDONESIA-Dinas Kesehatan (Dinkes), Kabupaten Pesisir Barat (Pesibar)  mulai memaksimalkan kegiatan penanganan stunting di sejumlah kecamatan yang menjadi lokasi khusus (Lokus) sesuai dengan hasil study kasus gizi Indonesia yang dilaksanakan pada awal Tahun 2022 lalu.

Kabid Kesehatan Masyarakat, Irhamudin, mendampingi Kepala Dinkes, Tedi Zadmiko, mengatakan dalam kegiatan penanganan stunting itu ada kegiatan aksi konfergensi, dalam aksi itu kegiatan yang berkaitan dengan stunting hanya 30 persen yang dilaksananan Dinkes, sedangkan 70 persen lainnya dilaksanakan oleh sejumlah OPD terkait.

“Kegiatan yang kita lakukan masih fokus pada sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan penanganan stunting secara langsung , sedangkan untuk kegiatan pemberian makanan tambahan tahun ini tidak dilaksanakan karena tidak ada anggaran dari Pemprov Lampung,” kata dia.

Dijelaskannya, terdapat 15 pekon di lima kecamatan yang menjadi lokus penanganan stunting pada Tahun 2022, dari 15 pekon itu terdapat 25 kasus stunting berdasarkan data study kasus gizi Indonesia yang dilaksanakan di awal tahun. “Dari 25 kasus stunting itu 17 kasus merupakan kasus yang ditemukan pada tahun 2021 lalu, sedangkan delapan kasus lainnya merupakan hasil identifikasi yang dilakukan pada awal tahun ini,” jelasnya.

Selanjutnya, lima kecamatan yang menjadi Lokus Stunting itu seperti Kecamatan Karyapenggawa di Pekon Menyancang empat kasus, Pekon Waysindi lima kasus. Kecamatan Ngambur, Pekon Negeriratu Ngambur dua kasus, Gedungcahya Kuningan tiga kasus, Sumberagung satu kasus, Pekon Mon satu kasus, dan Pekon Sukabanjar dua kasus. “Lalu di Kecamatan Ngaras Pekon Sukamaju dua kasus, Pekon Sukarame satu kasus dan Pekon Negeriratu Ngaras dua kasus. Kecamatan Pesisir Selatan di Pekon Ulokmanik satu kasus dan Kecamatan Pesisir Tengah Pekon Wayredak satu kasus,” paparnya.

BACA JUGA:  15 Jamaah Umroh asal Pesisir Barat Dilepas Wabup-Ketua TP PKK

Kemudian, Dinkes Pesbar tahun ini akan melaksanakan intervensi gizi spesifik dalam penanganan stunting seperti memberikan tablet tambah darah untuk mengatasi anemia pada ibu hamil, mengkonsumsi garam beryodium, ASI eksklusif, dan imunisasi.

“Lalu pemberian ASI selama dua tahun didampingi MP ASI adekuat, pemberian obat cacing, pemberian makanan tambahan tata laksana gizi buruk, penanggulangan malaria dan pencegahan dan pengobatan diare,” ujarnya.

Masih kata dia, dalam penanganan stuting harus ada peran serta dari OPD terkait lainnya, karena dalam mengatasi stunting tidak hanya menjadi tanggungjawab Dinkes saja, melainkan ada delapan aksi konfergensi yang melibatkan OPD terkait.

“Kami berharap penanganan stunting ini tidak hanya dibebankan ke Dinkes saja, tapi OPD lain juga bisa melaksanakan tugas masing-masing,” tandasnya. (WII)

  • Bagikan