Mengenal Mr Gele Harun, Pejuang di Lampung Barat Penerima 2 Piagam

  • Bagikan

LAMPUNG BARAT, WAKTUINDONESIA – Sebagian masyarakat Kabupaten Lampung Barat bisa jadi belum familiar dengan nama Mr Gele Harun.

Nama Gele Harun seketika menjadi perbincangan jelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Republik Indonesia (RI) tahun 2022 di Lampung Barat.

Ternyata Gele Harun salah satu pejuang yang mempertahan kemerdekaan.

Nama Gele Harun tertulis di nisan ahli warisnya di Pekon Sukaraja Kecamatan Waytenong.

Tampak di batu nisan itu terlihat ada dua bagian tulisan.

Pada bagian atas tertulis, Harinawati wafat ketika Gele Harun berjuang memertahankan Kemerdekaan Indonesia Tahun 1945-1950.

Kemudian pada bagian bawah tertulis, Herinawati Binti Mr Gele Harun dimakamkan di Sukaraja Waytenong Lampung Barat.

BACA JUGA: HUT ke-77 RI, Gele Harun Pernah Berjuang di Lampung Barat, Bupati Parosil Bakal Serahkan Piagam

Lantas siapa Mr Gele Harun?

Gele Harun Nasution merupakan putra Harun Al-Rasyid Nasution.

Harun Al-Rasyid Nasution sendiri adalah seorang dokter dan telah menetap serta memiliki tanah yang luas di Tanjungkarang Timur.

Gele Harun lahir di Sibolga, 6 Desember 1910.

Gele Harun mengenyam pendidikan di sekolah hakim tinggi di Leiden, Belanda untuk belajar hukum.

Di akhir 1938 Gele Harun kembali ke tanah air dengan membawa gelar Mr.

Mr adalah meester in de rechten atau Magister dalam hukum yang berlaku di Belanda.

Ia kemudian membuka kantor advokat pertama di Lampung.

Pada tahun 1945, ia memulai perjuangannya dari Angkatan Pemuda Indonesia (API) dengan menjadi ketuanya.

Tetapi aktivitas itu terhenti saat ia ditugaskan menjadi hakim di Mahkamah Militer Palembang, Sumatra Selatan tahun 1947 dengan pangkat tituler atau letnan kolonel.

Dengan adanya ultimatum dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Hubertus van Mook, yang mengharuskan seluruh tentara Indonesia termasuk hakim militer angkat kaki dari Palembang, Gele Harun memutuskan kembali ke Lampung dan bergabung kembali dengan API hingga ikut mengangkat senjata saat Agresi Militer Belanda II tahun 1948.

BACA JUGA:  Bupati Lampung Barat Lepas 138 Jamaah Umrah di H-1 Idul Fitri 1443 H, 100 di Antaranya Dibiayai APBD
  • Bagikan