Pemilu 2024, Kaum Milenial dan Gen Z Dinilai Punya Peran Penting

  • Bagikan
Wildan Hanafi/Foto: Ist

KEDONDONG, WAKTUINDONESIA – Panitia Pengawas Kelurahan/Desa Gunung Sugih, Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran Wildan Hanafi berkeyakinan kaum milenial dan generasi alfa, mempunyai peran yang sangat penting, dalam kontestalasi Pemilu 2024 mendatang.

Meyakini generasi Z dan kaum milenial akan punya peran penting dalam helatan Pemilu 2024 nanti.

“Penting bagi semua masyarakat untuk mengakui peran penting yang dimainkan oleh milenial dan gen-Z dalam Pemilu 2024 nanti. Banyak dari mereka memiliki pandangan yang berbeda dan inovatif terkait dengan isu-isu sosial dan politik,” kata Wildan dalam rilisnya, Sabtu 24 Juni 2024.

“Dan oleh karena itu, mereka harus didorong untuk terlibat dalam proses politik dan memberikan suara mereka pada pemilihan. Selain itu, partisipasi aktif dari generasi muda dalam pemilu juga dapat membantu menciptakan masa depan yang lebih baik dan inklusif bagi masyarakat,” ujarnya.

Wildan menyebutkan, ada sejumlah pertimbangan generasi ini punya peran penting. Kedua kelompok ini telah menunjukkan kecenderungan untuk mempengaruhi opini publik melalui media sosial dan partisipasi dalam gerakan sosial.

Selain itu, generasi Z, yang terdiri dari orang-orang yang lahir antara akhir 1990-an dan awal 2000-an, terkenal karena kecenderungan mereka dalam menggunakan teknologi digital dan media sosial.

Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan terdapat 65,82 juta pemuda di Indonesia pada 2022. Jumlah itu setara dengan 24 persen dari total penduduk di tanah air sepanjang tahun ini.

Menurut dataindonesia.id ditinjau dari kelompok umurnya, pemuda Indonesia paling banyak berada di kelompok umur 19-24 tahun, yakni 40,10 persen Sebanyak 39,56 persen pemuda dari kelompok umur 25-30 tahun. Sementara, 20,34 persen pemuda berusia 16-18 tahun.

“Dalam politik, generasi Z telah menunjukkan kecenderungan untuk memperjuangkan masalah seperti hak asasi manusia, lingkungan, dan isu-isu yang berkaitan dengan kesetaraan gender. Mereka juga cenderung menggunakan media sosial dan platform daring lainnya untuk memperjuangkan pendapat mereka dan mempengaruhi opini publik yang berkembang,” jelas dia.

BACA JUGA:  Bawaslu Pesawaran Jangan Lemah Terhadap Pelanggaran Pilkada

Wildan juga menjelaskan, kaum milenial yang terdiri dari orang-orang yang lahir antara awal 1980-an dan akhir 1990-an, juga telah mempengaruhi opini publik dalam banyak hal, terutama melalui penggunaan media sosial dan partisipasi dalam gerakan sosial.

Milenial sering memperjuangkan isu-isu seperti keadilan sosial, hak LGBT, hak reproduksi, dan isu-isu lingkungan.

“Dalam konteks pemilihan umum, gen-Z dan milenial telah terbukti menjadi kelompok demografi yang sangat penting. Kedua kelompok ini memiliki jumlah suara yang signifikan dan sering kali memiliki pandangan politik yang berbeda dari kelompok demografi yang lebih tua. Karena itu, partai politik sering kali mencoba untuk memperjuangkan isu-isu yang penting bagi kedua kelompok ini untuk memenangkan dukungan mereka,” kata dia.

Ia menegaskan, dalam beberapa waktu terakhir, kritik sering dikaitkan dengan tindakan subversif, kritik berarti anti-negara atau anti-pemerintah.

“Kemudian dalam hal ini dijawab oleh Negara dengan tindakan represif untuk membungkam kebebasan warga negaranya,” paparnya.

  • Bagikan