Nah.. Kasus Pelecehan Seksual Anak Bawah Umur Tak Berlanjut Ke Ranah Hukum

  • Bagikan

PRINGSEWU, WAKTUINDONESIA – Kepala Unit (Kanit) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pringsewu, Aiptu Freni menyebut, kasus dugaan kekerasan seksual (sodomi)  terhadap anak dibawah umur yang dilakukan Sekretaris Pekon Parerejo Rois Al Ghifari tak berlanjut ke ranah hukum.

Hal tersebut disampaikan Freni, pihaknya sudah turun ke pekon setempat pada 11 Mei lalu, dengan didampingi Kepala Pekon Muhadi, Ketua BHP Muryanto, serta Babinsa dan Bhabinkamtibmas pekon setempat.

“Hasil dari pertemuan itu, para korban dan keluarga korban sudah membuat surat pertanyaan tidak akan dinaikkan ke proses hukum” kata Freni, Rabu (19/5/2021).

Selanjutnya, Ia mengatakan, kejadian pelecehan seksual tersebut terjadi antara tahun 2012-2018 lalu dengan total korban yang terdata hanya delapan anak dibawah umur.

“Yang jelas kejadian pelecehan seksual tersebut pada saat latihan seni beladiri. Pelaku Rois ini merupakan pembina pencak silat. Dan melakukan hal tak senonoh tersebut di dalam ruangan yang ada  di balai pekon setempat,” jelasnya.

Pihaknya juga mengaku  tak mengetahui persis pelecehan seksual apa yang dilakukan oleh pelaku Rois, karena korban tak mau ditanyai terlalu dalam.

“Korban mengaku  sudah memaafkan para pelaku. Ya  Kami juga tidak berhak ya menanyakan mereka terlalu dalam, intinya mereka tidak ingin masalah ini dibawa keranah hukum,” lanjutnya.

Namun, Ia mengakui, pihaknya siap menerima dan memproses jika ada korban yang melaporkan masalah ini ke Kepolisian.

“Ya kami masih menunggu laporan,  kalau permasalahan ini kami pasrahkan kepada korban, jika ingin laporan kami siap menerima dan memproses itu,” tandasnya.

Diketahui sebelumnya, pelecehan seksual Sekretaris Pekon Parerejo Kacamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu terhadap beberapa korbannya (laki-laki) diarahkan untuk damai.

BACA JUGA:  Unjuk Rasa UU Cipta Kerja di Lampung: 18 Luka, Polisi Masih Amankan 5 Orang

Hal itu diketahui setelah Kepala Pekon Parerejo Muhadi, memfasilitasi antara pelaku dan korban agar kasus tersebut tidak sampai ke ranah hukum.
Kasus ini sendiri terurai setelah korban laki-laki terakhir berinisial (AG) umur 12 tahun melaporkan kejadian yang menimpanya Rabu (5/5/2021) malam. Dari sini terungkap jika pelaku telah menjalankan aksi tak senonohnya sejak tahun 2012 silam.

“Saya diminta Pak Kakon (Muhadi) untuk tandatangan surat pernyataan tidak akan melapor. Katanya nanti ribet,” kata L korban lainnya, Rabu (17/05/2021).

L sebenarnya sangat berharap pelaku bisa ditangkap dan diberi hukuman berat. Karena para korban sangat merasa trauma atas kejadian pelecehan seksual (dugaan sodomi) tersebut.

“Kalau saya sebenarnya tidak ikhlas kalau disuruh damai. Saya berharap pelaku dapat diadili,” tambahnya.

(Rul/WII).

  • Bagikan