Sejumlah Indikasi Muncul di Pembangunan Jalan Rabat Beton Kotakarang, Semua Dibantah Peratin

  • Bagikan

KRUI, WAKTUINDONESIA – Pembangunan jalan rabat beton di Pekon Kotakarang Kecamatan Pesisir Utara Kabupaten Pesisir Barat (Pesibar), Lampung, bersumber Dana Desa (DD) 2021 diduga penuh kejanggalan.

Demikian dikatakan salah seorang warga setempat yang enggan namanya disebutkan, Minggu (31/10).

Menurutnya, pembangunan jalan sepanjang 320 Meter dan Lebar 3 Meter dengan ketebalan 12Cm itu terlihat cukup banyak kejanggalan.

Bagaimana tidak, material yang digunakan diduga banyak yang tidak sesuai dengan Rancangan Anggaran Belanja (RAB).

“Belum lagi ketebalan jalan dimana yang seharusnya mencapai 12Cm, fakta di lapangan para pekerja banyak mengurangi ketebalan dengan cara menimbun badan jalan dengan material mentah atau bukan adukan semen. Hal itu tentu saja mengurangi volume ketebalan jalan,” ucapnya.

Tidak hanya itu, lanjutnya, pelaksanaan pekerjaan tersebut juga diduga tidak memberdayakan masyarakat setempat secara keseluruhan.

Pasalnya, meski para pekerja yang saat ini dilibatkan merupakan warga asli pekon setempat, akan tetapi tidak pernah bergantian dengan masyarakat lainnya.

“Pekerjanya memang warga Kotakarang, tetapi orangnya itu-itu saja, masyarakat lainnya tidak dilibatkan. Hal itu diduga dikarenakan upah dalam pembangunan jalan rabat beton itu sudah diborongkan senilai Rp12 juta,” terangnya.

“Padahal pada prinsipnya pelaksanaan pembangunan yang bersumber dari DD harus memberdayakan masyarakat setempat dengan cara mempersilahkan bagi siapapun warga pekon itu untuk ikut bekerja. Serta sistem upah para pekerja juga sudah dihitung sedetail mungkin,” lanjutnya.

Dia menandaskan pihaknya menilai peratin juga melakukan tindakan memperkaya diri sendiri melalui pembangunan tersebut, dengan cara beberapa jenis material yang digunakan dibeli langsung dari toko milik peratin pekon tersebut.

Dikonfirmasi terpisah Peratin Kotakarang, Ridoni, membantah jika pengerjaan pembangunan jalan rabat beton dimaksud dikerjakan asal jadi.

BACA JUGA:  DD 2021 belum Cair, Dinas PMP: Anggaran 2020 tak boleh Direalisasikan 2021

“Pasirnya adalah pasir kali, batu split yang digunakan sebagian dibeli dari warga pekon ini yang memang menjual batu split, ada dari Kecamatan Lemong. Kalau kami menggunakan pasir laut baru bisa dikatakan tidak sesuai RAB,” ujar Ridoni.

“Jalan itu dibangun dengan panjang mencapai 320 Meter, lebar 3 Meter, dan tebal 12Cm. Bahkan atas kebijakan kami panjang ditambah sebanyak 4 Meter dari ukuran seharusnya dengan maksud bagian ujung jalan tersebut menyatu dengan jembatan,” tambahnya.

Terkait ketebalan jalan yang diduga kurang, menurut Ridoni jalan tersebut merupakan jalan pekon yang sudah beberapa kali dilakukan peningkatan.

“Artinya kondisi jalan tersebut memang sudah cukup datar. Sudah tidak mungkin kami mencuri ketebalan dengan cara menimbun badan jalan dengan sirtu,” kilahnya.

Bahkan Ridoni juga membantah terkait dugaan sistem upah yang diduga diborongkan senilai Rp12 juta.

“Sistem upah pekerja dihitung dengan sistem harian, pekerja juga gantian kecuali kepala tukang,” lanjutnya.

Terkait dugaan memperkaya diri sendiri dengan cara menyuplai secara langsung beberapa jenis material dari toko miliknya. Menurutnya, toko bangunan yang menyuplai beberapa jenis material dimaksud, merupakan toko milik orangtuanya.

“Itu bukan toko saya melainkan toko orangtua saya. Tentu tidak wajar jika kami menyuplai material dari toko yang dari luar pekon, sementara di pekon kami sendiri memang ada toko yang menyediakan barang yang kami butuhkan dalam pembangunan itu. Namun itu bukan toko milik saya,” tukasnya.

(ers/WII)

  • Bagikan