Hari itu Kamis, semua wartawan mingguan penerbitan lokal itu tengah kumpul. Diproyeksi.
Usai memberikan arahan kepada sejumlah wartawannya, Udo Andi memanggil saya. Saya masuk, duduk di kursi depan mejanya. “Sudah berpikir? Sudah bulat?” Demikian pertanyaan beliau. Saya menjawab singkat, “sudah”.
Awal bekerja saya ditugaskan meliput di kabupaten tetangga, di provinsi tetangga pula, Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Sekaligus merintis dan membesarkan sebaran koran mingguan itu di pemkab yang beribukotakan Muara Dua tersebut.
Saya jalankan saran dan petunjuk pimpinan. Jujur, aaya dididik cukup keras oleh Udo Andi, utamanya disiplin waktu. Demikian juga soal karya. Salah koma saja, saya pun ditatar. Demikian gambaran pola ia mengembleng dan mengajar wartawannya menulis. Dan satu hal yang saya tangkap. Udo Andi tak suka kegagalan.
Di OKU Selatan, sekitar satu tahun saya bertugas di kabupaten baru itu. Karena sekitar akhir tahun 2010, koran mingguan ini tak lagi cetak. Saya nganggur.
Banyak rekan menawarkan untuk bergabung di medianya, namun saya masih menunggu saran Udo Andi, meski kami sudah jarang bertemu.
Sekitar pertengahan 2011, Udo Andi kembali membuka media edisi print. Kali ini terbit per hari. Awalnya bernama Warna Lambar. Namun karena suatu hal, akhirnya terbit dengan dengan nama SKH Warta Lambar.
Udo Andi menghubungi saya. Meminta saya mengadap di kantor yang sudah ia siapkan. Beliau bercerita prihal penerbitan itu.
Terus terang, saya sempat ragu saat ditawari menjadi redaktur. Alasannya jam terbang saya terasa masih minim, apalagi mengemban amanah itu.
Sebagai orang yang mendidik saya dari nol, Udo Andi tetap menyakinkan saya. Saya pun menyanggupinya dengan permintaan. Saya tak dilepas, selalu ‘dituntun’ dan tetap diarahkan.
Kami berdua pun membuat halaman. Sudah disetujui, sampul berlabel SKH Warta Lambar. Sementara halaman dalam dinamai daerah pemilihan disingkat DP.
Kami, calon kru media anyar kala itu, terus dilatih. Sekitar tiga bulan sebelum dilaunching. Dirasa sudah layak, Warta Lambar pun terbit, 20 Juni 2011.
Saya pun mundur dari honorer, ingin fokus bekerja sebagai jurnalis yang saya cintai ini.
Sekitar April 2012, saya mengajukan pengunduran diri dari wartawan sekaligus Plt Wakil Pemimpin Redaksi Warta Lambar saat itu. Penguduran diri saya diterima.
Sekitar tanggal 24 April 2012, saya resmi bergabung dengan SKH Lampung NewsPaper, koran ini group Radar Lampung, fokus liputan ekonomi bisnis dan politik.
Tercatat hingga akhir 2020 saya menjadi wartawan di koran itu.
Di media online, saya mulai jatuh cinta sejak tahun 2018. Saat itu eks bos saya di Lampung NewsPaper, H Nizwar telah bergabung di salah satu media di Jawa Barat. Di sana, dia juga pemred media online JPNewscoid. Saya mulai mengirim berita ke media daring itu. Saya juga sempat bergabung ke JP-NewsId, dia juga pemrednya.
Sekitar pertengahan 2020 saya membuat perusahaan media, waktuindonesia.id nama domainnya. Kemudian Juli 2021 menerbitkan edisi print Harian Waktu Lampung.
Dan pada 19 Januari 2023, Harian Waktulampung Online dengan nama domain Waktulampung.com di bawah naungan Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) resmi mengudara. Saya meminta kesedian H Nizwar sebagai pemrednya dan saya sendiri wakilnya.
Selama kurun waktu 12 tahun lebih saya menggeluti pekerjaan ini. Suka dan duka tentu banyak dijalani. Yang pasti saya sangat mencintai dunia jurnalistik.
Salam…
Liwa, 26 Februari 2023





